Share

Penyakit Berkhayal di Film Joker dan Kesehatan Mental

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 07 Oktober 2019 09:26 WIB
$detail['images_title']
Film Joker dan gangguan Mental (Foto: Variety)

Bisakah penyakit ini didiagnosis?

Jawabannya bisa. Jika Anda memiliki gejala gangguan delusi, dokter kemungkinan akan memberi Anda riwayat medis dan pemeriksaan fisik lengkap. Meski pun tidak ada tes laboratorium untuk mendiagnosis gangguan delusi secara spesifik, dokter mungkin menggunakan tes diagnostik, seperti studi pencitraan atau tes darah, untuk menyingkirkan penyakit fisik sebagai penyebab gejala. Ini termasuk: Penyakit Alzheimer, Epilepsi, Gangguan obsesif-kompulsif, Igauan, dan Gangguan spektrum skizofrenia lainnya.

Jika dokter tidak menemukan alasan fisik untuk gejalanya, mereka mungkin merujuk orang tersebut ke psikiater atau psikolog, profesional perawatan kesehatan yang terlatih untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit mental. Mereka akan menggunakan alat wawancara dan penilaian untuk mengevaluasi orang tersebut karena gangguan psikotik.

Dokter atau terapis mendasarkan diagnosis pada gejala orang tersebut dan pengamatan mereka sendiri terhadap sikap dan perilaku orang tersebut. Mereka akan memutuskan apakah gejalanya mengarah ke gangguan 'berkhayal' atau tidak.

Nah, penilaian ini yang biasanya dikaitkan dengan gangguan 'berkhayal', pertama ialah orang tersebut memiliki satu atau lebih khayalan yang berlangsung sebulan atau lebih lama. Orang tersebut belum pernah didiagnosis menderita skizofrenia sebelumnya. Mengalami halusinasi, jika mereka memilikinya, terkait dengan tema delusi mereka.

Terlepas dari delusi dan dampaknya, kehidupan mereka tidak terlalu terpengaruh. Perilaku lain tidak aneh atau ganjil. Episode manik atau depresi utama, jika terjadi, singkat dibandingkan dengan delusi. Tanda terakhir ialah tidak adanya gangguan mental, obat-obatan, atau kondisi medis lain yang patut disalahkan.

Menjadi catatan di sini, penyakit 'berkhayal' ini jangan dianggap remeh. Jika kondisinya semakin parah, pasien malah akan mengalami komplikasi yang membahayakan.

Kondisi komplikasi yang dialami pasien 'berkhayal' ialah ia menjadi depresi, mengancam nyawa dirinya pun orang lain, dan dampak menakutkan lainnya ialah dia terasingkan dari sosial. Kalau sudah begini, kehidupannya tidak akan normal lagi dan pengembalian kondisi akan semakin sulit.

(dno)