Share

KLB Hepatitis A di Pacitan, 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 01 Juli 2019 15:55 WIB
$detail['images_title']
KLB Hepatitis di Pacitan (Foto: Antara)

Kejadian Luar Biasa

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan Eko Budiono menjelaskan, wabah penyakit ini mulai teridentifikasi pada 13 Juni lalu dengan jumlah penderita awal sebanyak 24 orang. Hanya dalam dua pekan, penyebaran penyakit ini sangat pesat. Pada Minggu (30/06) terdata 877 warga yang terduga terjangkit wabah ini.

"Namun trennya saat ini tambahan penderita barunya sudah sangat menurun. Kemarin tanggal 27 Juni penderita baru hanya satu," jelas Eko.

Sebanyak 309 orang yang dinyatakan positif mengidap hepatitis A kini dirawat di fasilitas kesehatan, sementara sisanya dirawat di rumah masing-masing. Terdapat enam kecamatan yang teridentifikasi menjadi sebaran penyakit kuning, yakni Kecamatan Sudimoro, Ngadirojo, Tulakan, Tegalombo dan Arjosari.

"Pertama kali muncul di Puskesmas Sudimoro, kemudian geser ke Kecamatan Ngadirojo, kemudian geser laki ke Kecamatan Tulakan. Sekarang lagi ada penambahan di Kecataman Arjosari kemudian Tegalombo," jelas Eko.

Dari lima kecamatan tersebut, penderita hepatitis tertinggi berada di Kecamatan Sudimoro, yakni mencapai 481 orang lebih. Sementara di Kecamantan Ngadirojo ada 137 orang dan Kecamatan Tulakan ada 54 orang dan sisanya tersebar di dua kecamatan yang lain.

Camat Sudimoro, Wawan Pujiatmoko, menyebut penyakit itu kini menyebar di sepuluh desa di Kecamatan Sudimoro.

"Karena persebaran yang cepat ini yang mungkin menjadi kekhawatiran ini akan menjadi berkembang," cetusnya.

Wawan menjelaskan mereka yang terjangkit virus ini kemudian dirawat di dua puskesmas dan dua klinik di kecamatan tersebut. Lantaran jumlah pasien melebihi daya tampung, kebanyakan dari mereka terpaksa tidur di tempat tidur darurat (velt bed).

"Sebagian juga sudah dirujuk ke puskesmas di kecamatan tetangga, juga ke RSUD Pacitan."

Karena jumlahnya yang kian bertambah, Pemerintah Kabupaten Pacitan menetapkan kejadian luar biasa (KLB) Hepatitis A pada 25 Juni lalu.

Apa penyebabnya?

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto menjelaskan hepatitis A adalah terminologi yang digunakan untuk penyakit infeksi pada hati yang disebabkan oleh virus tipe A.

"Hepatitis A masuk ke dalam tubuh melalui saluran makanan. Jadi bisa melalui makanan yang tercemar virusnya atau minuman yang tercemar virusnya," jelas Achmad.

Orang yang terjangkit penyakit ini kemudian menyebarkan virus Hepatitis A melalui cairan kencing atau feses. Virus ini kemudian menyebar ke makanan atau minuman dengan berbagai metode dan cara yang kemudian dikonsumsi orang banyak.

"Yang paling memungkinkan dengan outbreak (wabah) yang seperti ini mungkin ada cemaran sumber air oleh virus A sehingga air ini digunakan secara massal oleh banyak orang padahal air ini mengandung virus A," jelasnya.

"Ini kemudian menjadi jawaban mengapa cepat sekali dalam waktu singkat langsung banyak [orang yang terjangkit virus hepatitis A]," jelasnya.

Selain itu, berkurangnya pasokan air bersih di daerah Pacitan ditengarai menjadi penyebab merebaknya penyakit hepatitis A di wilayah itu.

Kalangan keagamaan antivaksin berada di balik wabah cacar air di AS

Ada penyakit tersembunyi dalam es, dan mereka mulai bangkit

Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan Eko Budiono, yang menyebut kualitas sumber air yang dipakai oleh warga tidak terjamin kebersihannya.

"Kualitas air bersih yang ada itu memang perlu peningkatan, [bakteri] E coli-nya masih cukup tinggi, sepuluh kali lipat dari normal," jelasnya. Kekeringan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir juga ikut mempercepat penyebaran virus. Selain itu, sanitasi masyarakat juga tidak terjaga dengan baik.

Dia mengatakan, usai Hari Raya Idul Fitri, banyak warga yang menggelar hajatan, namun menurutnya, pengelolaan makanannya tidak memperhatikan kebersihan.

Hal ini diakui oleh Camat Sudimoro, Wawan Pujiatmoko, yang menyebut dua pekan setelah Hari Raya Idul Fitri, jumlah warganya yang terjangkit penyakit ini meledak hingga ratusan warga.

"Itu langsung seratusan warga terjangkit dalam sehari dan itu terus saja berlanjut," kata dia.

Penyebaran penyakit ini semakin meluas karena kebanyakan dari warga yang terjangkit Hepatitis A enggan dirawat inap. Padahal, semestinya, mereka diisolasi dari mereka yang belum tertular penyakit ini.