Share

Beri Pendidikan Seks ke Anak Tidak Perlu Pakai Perumpamaan, Katakan yang Sebenarnya

Pisca Azalea, Jurnalis · Jum'at 30 November 2018 13:09 WIB
$detail['images_title']
Beri pendidikan seks ke anak tidak perlu pakai ungkapan (Foto:Ist)

BERAPA banyak masyarakat Indonesia mendapatkan pendidikan seks yang komprehensif sejak dini? Minimnya pengetahuan mengenai kesehatan seksual dan reproduksi menyebabkan banyak masyarakat yang beranggapan bahwa hal yang berhubungan dengan seksualitas adalah hal yang tabu.

Padahal kurangnya pendidikan seks sejak dini akan membuat anak yang memasuki usia pubertas cenderung mencari informasi dari tempat -tempat yang kurang tepat, misalnya di internet. Hal ini malah akan memungkinkan anak melakukan perilaku seks beresiko dan menyebakan Infeksi Menular Seksual (IMS) atau HIV/AIDS.

Menurut laporan Kementerian Kesehatan RI tahun 2017 menyatakan bahwa hanya 20 persen remaja berusia 15 -24 tahun yang mengetahui informasi tentang HIV. Ketika berbicara mengenai pentingnya pendidikan kesehatan seksualitas hal itu tidak selalu membahas tentang seks. Banyak orang yang mengira seksualitas itu sama dengan seks, sebenarnya anggapan- anggapan ini tidaklah benar.

“Yang perlu saya highlight adalah ketika kita berbicara pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas itu tidak semata-mata berbicara tentang bagaimana berhubungan seks, itu salah banget kalau berpikirnya ke sana,” ujar Amalah Rahmah, Country Representative Rutgers WPF Indonesia, saat dijumpai Okezone di acara konferensi pers “ #AkuDewasa : Aku Tanggung Jawab” pada Kamis 29 November 2018.

 Selain Doorprize Jaguar, Pasangan #CrazyRichSurabayan Jusup-Clarissa Akan Sajikan Hidangan Mewah dari 5 Benua

Lalu pada umur berapakah pendidikan mengenai seksualitas sudah boleh diberikan kepada anak? Sebenarnya, pendidikan mengenai seksualitas memang harus sudah diberikan sejak dini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang diungkapkan Amalah Rahmah

 Intip Gaya Fitting Baju Kim Kardashian yang Bikin Salfok

“Pendidikan seksualitas boleh dikasih sedini mungkin dan secepat mungkin tetapi dengan materi – materi yang tentu saja tergantung dengan usianya dan kalau ngasih tahu ke anak tidak pelu memakai perumpamaan seperti burunglah atau roti yang malah akan membuat si anak bingung ketika bertambah besar. Langsung saja katakan ini alat kelamin laki- laki dan ini alat kelamin perempuan,” ujar Amalah.

Tujuan dari pentingnya mengajarkan pendidikan seks dan reproduksi, yakni untuk mewujudakan, kesejahteraan, dan martabat mereka. Selain itu juga untuk mengembangkan hubungan sosial dan seksual yang penuh penghormatan serta memahami dan memastikan perlindungan atas hak mereka.

(ndr)