Share

Dokter Terawan: Kemenkes Sudah Beri Izin Metode DSA

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 12 November 2018 16:46 WIB
$detail['images_title']
Dokter Terawan (Foto: Dewi/Okezone)

KONTROVERSI metode Digital Substraction Angiography (DSA) sempat menghebohkan publik. Metode ini dianggap tidak mendapatkan izin, sehingga membuat sebagian orang khawatir.

Namun faktanya, metode DSA telah menolong banyak pasien. Bahkan Spesialis Radiologi Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) menegaskan bahwa metode tersebut sudah disetujui oleh Kementerian Kesehatan RI.

"Dari Kemenkes sebenarnya sudah (Ada izin). Pasti kalau tidak memberikan ya diberi surat (peringatan). Ini kaitan masalahnya dengan kompetensi, yang mengatur saya dengan tim. Bagaimanapun ilmu radiologi ini berkembang," ungkapnya saat ditemui di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Senin (12/11/2018).

 (Baca Juga:Mengenal Lebih Dekat CT Scan dan Fungsinya di Dunia Kesehatan)

Dokter Terawan menceritakan, dalam sehari dia bisa memegang 30-50 pasien dengan masalah saraf otak, tumor, serta kanker. Dia pun yakin bahwa metode DSA sangat membantu banyak pasien yang membutuhkan.

Dia menyebutkan, pelayanan metode DSA ini standarnya sudah kelas internasional. Malahan banyak pasien dari banyak negara, seperti Eropa, China, Vietnam, hingga Australia sudah mencoba metode check up otak ini.

Dampaknya, menurut dr Terawan, tidak hanya menguntungkan pasien individu. Tetapi wisatawan yang datang ke Indonesia malah bisa menambah devisa negara.

 (Baca Juga:Sempat Kontroversi, Menguak Manfaat Terapi DSA yang Dipopulerkan Dokter Terawan)


"Kalau perizinan ini standar pelayanan internasional. Ekonomi masyarakat jadi berjalan, kalau ada yang senang di sini (Indonesia) bisa investasi dan sudah terjadi," tambah dia.

Nah, namanya semakin populer dan diketahui oleh semua orang karena dipecat IDI. Apakah benar dan seperti apa nasibnya?

Ternyata, di hadapan wartawan, dokter yang praktik khusus di RSPAD Gatot Subroto Jakarta itu menyangkal bahwa dipecat oleh IDI. Bahkan hubungannya sekarang baik-baik saja, dari segi profesional.

"Sampai sekarang tidak ada keputusan lagi dari IDI. Sebab, tidak ada laporan dari pasien atas masalah ini. Jadi ya baik-baik saja," pungkas dia.

(tam)