Share

Tingkatkan Kualitas Kesehatan, Indonesia Akan Terapkan Family Doctor seperti di Belanda

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 06 November 2018 20:24 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

MASALAH kesehatan menjadi hal yang sedang diperhatikan secara global. Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kemenkes RI, menyelenggarakan forum diskusi bertaraf internasional bertajuk Global Health Security Agenda (GHSA) di Nusa Dua Convention Hall, Bali, Selasa (6/11/2018).

Setidaknya ada 48 delegasi dari 65 negara yang terlibat dalam GHSA. Acara ini dihadiri lebih dari 600 partisipan yang membahas tentang ancaman kesehatan masyarakat global. Tak hanya menjadi tuan rumah GHSA 2018, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Faried Moeloek, juga melakukan penandatangan MoU dengan Menteri Negara Belanda, Sybilla Dekker.

MoU ini berisi tentang rencana kerjasama Indonesia-Belanda di bidang kesehatan. Khususnya adalah tentang Family Doctor yang sudah diterapkan di Belanda. Menkes Nila berharap sistem tersebut dapat berlaku pula di Indonesia, yang nantinya bisa berimbas pada meningkatnya mutu dan kualitas kesehatan

“Tandatangan MoU dengan Belanda berisi kerjasama secara umum. Nantinya hal tersebut bisa kita perluas. Yang jelas hal ini harus ada payung hukumnya dengan Belanda dalam kerjasamanya dengan Indonesia. Saya coba sedikit-sedikit, tapi pihak Belanda meminta detailnya nanti," tutur Menkes Nila.

Baca Juga: Hadapi Penyakit Zoonosis, Begini Kata Kemenkes Soal Eliminasi Rabies dan Flu Burung

Family Doctor sendiri merupakan sebuah sistem di mana seorang dokter dididik untuk bisa mendatangi, merawat dan mengayomi pasien. Jadi setiap dokter akan datang mengunjungi setiap keluarga untuk memberikan perawatan terhadap pasiennya.

"Saya mengharapkan perawat kami dapat dikirim ke Belanda. Mereka menyebut sistem ini dengan family doctor, jadi dokternya itu mendatangi keluarga. Mereka mendidik perawat itu untuk memelihara dan mengayomi pasien, misalnya ia mengunjungi keluarga untuk melakukan cek darah dan memperhatikan obat-obatnya," lanjut Menkes Nila

menkes nila

Tak hanya sistem family doctor, Menkes Nila juga ingin mencontoh sistem transit hospital yang diterapkan Belanda. Khususnya bagi para pasien pasca operasi, mereka bisa pindah menuju transit hospital dan mendapatkan perawatan yang baik dari dokter umum dan tetap dimonitoring oleh dokter spesialis.

"Saya pernah melihat transit hospital yang berfungsi untuk memperpendek waktu di rumah sakit. Jadi setelah operasi tidak memerlukan waktu yang lama sekira 2-3 hari bisa dipindahkan ke transit hospital. Di sana yang bekerja bukanlah dokter spesialis, tapi yang menjaganya bisa dokter umum maupun perawat. Namun, jika ada apa-apa, mereka masih bisa berkomunikasi dengan dokter spesialisnya," sambung Menkes Nila.

Baca Juga: Langkah Indonesia Bersama Negara Anggota GHSA Pecahkan Masalah Kesehatan Global

Satu hal lagi yang ingin dilakukan Menkes Nila dalam MoU dengan Belanda adalah sistem joint venture investasi. Di mana Indonesia bisa dimampukan dalam membuat beberapa peralatan kecil di bidang kesehatan seperti gunting dan pinset.

“Indonesia juga mengharapkan dapat melakukan joint venture investasi di bidang produksi alat-alat kedokteran yang kecil, misalnya membuat pinset, gunting medis, belum ada yang bisa di kita. Saya mengharapkan yang keseharian digunakan. Kita saat ini sudah bisa produksi masker, baju operasi, handscoon, dan kassa steril,” tuntasnya.

(hel)