Share

Hadapi Penyakit Zoonosis, Begini Kata Kemenkes Soal Eliminasi Rabies dan Flu Burung

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 06 November 2018 14:31 WIB
$detail['images_title']
Dirjen Anung Sugihantono (Foto: Kemenkes)

SEMAKIN banyaknya penyakit yang berkembang dan evolusi penyakit yang populer pada zaman dahulu telah membuat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kemenkes memutar otak untuk mencari jalan keluar dalam mengeliminasi penyakit ini.

Sebelumnya Kemenkes pernah mengatakan ingin menjadikan 2020 bebas dari rabies dan 2025 bebas dari flu burung. Mereka bahkan mengatakan bahwa dua penyakit tersebut akan dieliminasi penyebarannya di Indonesia. Namun, nyatanya baik virus rabies dan juga flu burung masih ada di Tanah Air.

Menjawab hal tersebut, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Anung Sugihantono, menjelaskan maksud utama dari kata eliminasi yang disebutkan oleh Kementerian Kesehatan.

Menurutnya makna dari eliminasi bukan berarti penyakit tersebut lenyap seutuhnya. Penyakit tersebut tetap masih ada, namun tidak menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat. Dengan kata lain penyakit tersebut telah berhasil dijinakkan.

“Itu kan komitmen awal, kita bicara tentang 2020 bebas rabies, kita menyebut sebagai eliminasi dan tentunya 2025 tidak ada kasus flu burung. Waktu itu pun kita menyebutnya eliminasi. Jadi, eliminasi itu di dalam deskripsi pencegahan dan pengendalian penyakit itu artinya, sebenarnya masih ada kasus, tapi tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat,” tegas Dirjen Anung, saat diwawancarai Okezone di Nusa Dua Convention Hall, Bali, Selasa (6/11/2018).

dirjen anung

(Foto: KemenkesRI)

Bisa diambil contoh sederhana dari kasus rabies yang pernah mewabah di Bali. Banyak anjing berkeliaran di beberapa wilayah di Pulau Dewata, tentunya jika ada salah satu mereka yang terinfeksi, maka kemungkinan besar akan menyebar ke manusia apabila tergigit. Namun, wabah tersebut sekarang bisa kami atasi dan sudah tidak menjadi ancaman kesehatan nasional.

“Jadi, kalau di Bali ini ada orang digigit anjing dan menjadi rabies, namun hal seperti itu sekarang sudah tidak berpengaruh di angka tingkat nasional. Seperti kita bicara eliminasi malaria, itu angkanya tetap ada di bawah 1 per mil (1 per 1.000 penduduk itu kita menyebutnya eliminasi). Nah, hal itulah yang sedang kami upayakan,” lanjutnya.

Baca Juga: Menko PMK Puan Maharani Ungkap Kunci Hadapi Ancaman Kesehatan Global

Saat ini persoalan kesehatan manusia akibat gigitan hewan pembawa rabies masih terjadi. Meski demikian, hal itu untungnya tidak sampai mengakibatkan rabies pada manusia. Penyakitnya tetap ada, namun hal tersebut berkaitan dengan hewan itu sendiri.

Untuk saat ini, Indonesia sedang berkonsentrasi pada masalah makro seperti zoonosis. Penyakit ini ditularkan karena masalah vektor. Seperti penyakit yang ditimbulkan oleh hewan seperti nyamuk, kelelawar, tikus, dan anjing.

“Beberapa penyakit vektor yang dibawa oleh hewan, seperti malaria, demam berdarah masih menjadi perhatian kemenkes. Selain itu beberapa penyakit yang berasal dari unggas juga menjadi sorotan,” tuntasnya.

(hel)