Share

Perkembangan Transplantasi Hati di Indonesia, Donor Hidup Mulai Menjadi Pilihan

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 07 Mei 2018 17:10 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi

PREVALENSI penyakit liver atau hati di Indonesia terbilang cukup tinggi. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, jumlah pasien penyakit hati kronis mencapai 20 juta jiwa di mana 20-40% di antaranya berpeluang mengembangkan penyakit menjadi sirosis hati. Kondisi ini tentu membuat fungsi hati mengalami gangguan.

Penyebab penyakit hati bisa bermacam-macam, salah satunya karena virus hepatitis. Apabila hati yang sehat terinfeksi virus maka kondisinya bisa menjadi kronis. Bila dibiarkan bisa menjadi fibrosis hati yang kemudian berlanjut ke sirosis. Progres pengembangan itu memang bisa sangat lama yaitu 20-25 tahun. Namun sayangnya, penyakit ini cenderung sulit dan tidak terdeteksi karena tidak ada gejala. Bila sudah ada gejala maka sebenarnya penyakit sudah parah.

Bila pasien sudah mengalami sirosis hati, maka pengobatan yang harus dilakukan adalah transplantasi hati. Transplantasi hati adalah terapi utama pada pasien yang sudah mengalami gagal hati. Hal itu dilakukan guna mencegah kondisi menjadi lebih parah dan mengarah ke kanker hati. Namun tentu hal ini tidak bisa sembarangan dilakukan.

 (Baca Juga: 6 Kesalahaan yang Sering Dilakukan saat Mandi, Efeknya Bisa Jadi Penyakit?)

Ada dua cara untuk melakukan transplantasi hati yaitu donor organ dari orang yang sudah meninggal dan donor hidup. Saat ini, transplantasi yang sedang dikembangkan di Indonesia khususnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat adalah transplantasi dari donor hidup meskipun tingkat kerumitannya lebih tinggi.

Cara ini sudah diterapkan sejak tahun 2010. Hingga kini jumlah pasien yang sudah menjalani transplantasi hati dari donor hidup sebanyak 41 pasien anak dan 6 pasien dewasa. Angka keberhasilan bertahan hidup dari metode ini adalah 87% yang tidak terlalu jauh bila dibandingkan dengan Korea yaitu 89%.

 

Menurut Dr. dr Andri Sanityoso SpPD-KGEH, dalam proses transplantasi hati dengan donor hidup ada serangkaian tes yang harus dilakukan. "Proses diperlukan untuk menjamin keberhasilan transplantasi itu baik karena donor maupun resipien menghadapi risiko, sehingga dari awal harus sangat lengkap. Pemeriksaannya meliputi pemeriksaan laboratoriun, pemeriksaan pencitraan, serta pemeriksaan fisik dan konsultasi medis," ucapnya saat ditemui dalam konferensi media 'Perkembangan Transplantasi Hati' Senin (7/5/2018) di RSCM Jakarta.

  (Baca Juga: Perokok Pemula Usianya Makin Muda, Target Pemerintah Turunkan Prevalensi Merokok Sulit Tercapai)

Untuk sampai ke tahap transplantasi, memang ada beberapa tahapan yang harus dilewati oleh pasien penerima donor (resipien) maupun pendonor. "Skrining meliputi usia, golongan darah, serta fungsi hati, ginjal, dan organ lain. Pendonor yang diterima harus berusia 18-60 tahun dan risipien kondisinya harus betul-betul baik apabila dilakukan operasi. Selanjutnya ada skrining CT Scan, MRI, termasuk biopsi untuk yakin betul jika livernya betul-betul normal, baru setelah itu bisa dilakukan transplantasi," ungkap dr Andri.

Ada sebuah metode yang digunakan oleh tim dokter untuk menentukan apakah pasien bisa melakukan transplantasi atau tidak. Metodenya dikenal dengan MELD score dimana pasien yang diperbolehkan melakukan transplantasi bila hasil skornya 15-30.

"Kalau kurang dari 15 fungsi hati masih cukup baik sehingga bisa diobati atau diperbaiki melalui obat-obatan bila penyebabnya virus. Tapi kalau sudah lewat dari 30 tidak disarankan untuk melakukan transplantasi," jelas dr Andri.

Maka dari itu, dokter dari Departemen IPD Divisi Gastroenterologi Hepatologi tersebut juga menyatakan bila donor sebisa mungkin tidak hanya satu melainkan ada alternatif.

  (Baca Juga: Apakah Kecanduaan Seks Cuma Mitos?)

"Saat skrining dicari yang paling baik dan risiko paling ringan sehingga itu yang dipilih. Kadang-kadang saat skrining baru diketahui jika ada penyakit yang memberatkan atau kelainan anatomi," imbuhnya.

Sementara itu, Dr. dr. Toar J.M Lalisang, SpB (K) BD dari Departemen Medik Ilmu Bedah menambahkan bila transplantasi yang dilakukan pada donor hidup adalah mengambil sebagian hatinya. Tapi tenang saja, hati itu akan kembali ke volumenya setelah kira-kira 3 bulan.

"Hati itu terbagi menjadi 8 segmen. Untuk transplantasi pada anak dari 8 segmen paling dibutuhkan cuma 2 segmen, sedangkan kalau orang dewasa kira2 50% dengan pertimbangan hatu yang tersisa tidak boleh mengganggu fungsi kehidupan dari pendonor," pungkasnya.

(tam)