Share

Aqua Angkat Bicara Terkait Isu Mikroplastik dalam Air Botol Kemasan

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 22 Maret 2018 19:31 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto: Independent)

ISU mikroplastik yang merebak di tengah-tengah masyarakat mencengangkan hampir setiap orang, terlebih bagi mereka yang kerap minum air minum dalam kemasan. Begitu banyak merek-merek yang kita kenal mulai dari yang mudah didapat dengan harga terjangkau hingga yang tersaji di restoran mewah.

Satu dari sekian nama yang disebutkan media mengandung mikroplastik ialah Aqua. Air minum dalam kemasan yang cukup ternama ini menjadi satu merek yang paling tidak disangka oleh masyarakat yang sering mengonsumsinya.

Arief Mujahidin selaku Corporat Communication Director Danone Indonesia, akhirnya angkat bicara menanggapi isu yang sedang menerpa perusahaannya. Ditemui Okezone dalam kesempatan Hari Air Sedunia 2018 "Alam untuk Air" di Pabrik Aqua, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis, (22/3/2018), berikut jawabannya.

"Semua tahu isu yang sedang muncul soal air kemarin tentang mikroplastik sudah ada sejak 3 tahun lalu. Kita sedang melihat lagi, karena pada samplenya kita tidak tahu botolnya seperti apa, di perjalanan menuju ke tempat penelitian bagaimana apakah terpapar sinar matahari kita kan tidak tahu, atau mungkin terbentur-bentur," ucapnya.

Lebih lanjut, Arief juga menjelaskan metode yang digunakan dalam penelitian belum baku, dampaknya belum nampak, karena sempat ada penemuan yang sebelumnya air ledeng pun mengandung mikroplastik. Perusahaan tempatnya bekerja pun telah mengikuti aturan yang dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) dan pemerintah.

"Mikroplastik yang ditemukan itu tidak kasat mata sebesar 0,1 mili, metode penelitian pun belum baku, dan impactnya juga belum nampak. Semua orang mengikuti isu ini. Perusahaan sudah mengikuti aturan BPOM," imbuhnya.

"Penemuan ini masih belum disepakati oleh para ilmuwan. Ilmuwan masih belum sepakat ini plastik atau algae gangga itu masih berantem, kan kecil banget, bening sampe dikasih warna ungu, oranye, terus dikasih sinar biru, itupun menurut ahli plastik, plastik tuh ada beberapa jenis. Jadi, belum ada konsensusnya," lamjutnya

"Kalau kita menanggapinya isu ini lebih kepada agar masyarakat lebih sadar, plastik sudah menyampah di laut, sungai, air ledeng, seperti mengajak masyarakat untuk lebih mengelola plastik. Karena plastik tidak jalan sendiri ke kali. Tapi, kita yang harus menjaga perilaku," imbuhnya.

BPOM imbau masyarakat tak perlu panik

Sebelumnya, badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) buka suara kontroversi penelitian tentang mikroplastik yang ditemukan di beberapa kemasan air mineral. Pasalnya, banyak masyarakat yang merasa khawatir​ atas isu tersebut.

Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan konsumen tidak perlu khawatir dan panik terhadap keamanan, mutu dan gizi dari produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang beredar di Indonesia. Pasalnya, sesuai aturan SNI AMDK (wajib SNI) dan peraturan Kepala BPOM, pihaknya terus melakukan pengawasan ketat pada tahap pre-market dan post market terhadap kemasan air mineral tersebut, sehingga dirinya menjamin seluruh air mineral yang dijual pasaran sudah sesuai standar yang berlaku.

“Tidak perlu panik, air minum dalam kemasan masih aman di minum hingga saat ini. Kami bisa memastikan AMDK yang beredar di Indonesia telah memenuhi standar yang berlaku secara internasional dan Standar Nasional Indonesia (SNI). BPOM selalu melakukan pengawasan sesuai standar-standar yang telah ditetapkan dengan melakukan pengajian dan pengawasan sebelum diedarkan dan saat di edarkan. Produk yang tidak memenuhi SNI akan kami lakukan tindakan,” ujarnya melalui keterangan pers, Minggu 18 Maret 2018.

Selain itu lanjut Penny belum ada studi ilmiah yang membuktikan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia. Bahkan The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) selaku lembaga pengkaji risiko untuk keamanan pangan di bawah FAO-WHO belum mengevaluasi toksisitas plastik dan komponennya.

Oleh karena itu, belum ditetapkan batas aman untuk mikroplastik. Selain itu, Codex sebagai badan standar pangan dunia di bawah FAO-WHO belum mengatur ketentuan tentang mikroplastik pada pangan

“Kami masih menunggu kajian dari lembaga Internasional seperti EFSA, US-EPA yang saat ini sedang mengembangkan pengkajian termasuk metode analisis untuk melakukan penelitian toksikologi terhadap kesehatan manusia. Hasilnya belum ada studi ilmiah yang membuktikan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia. Ini adalah penelitian awal. Kami menunggu dari WHO terhadap revisi terhadap standar kita tentang AMDK di Indonesia,” jelasnya.

(hel)