Share

Bantah Viostin DS Mengandung Babi, Apa yang Dilakukan PT Pharos Selanjutnya?

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 06 Februari 2018 14:15 WIB
$detail['images_title']
PT Pharos Indonesia adakan konferensi pers terkait kasus Viostin DS (Foto: Tiara/Okezone)

PERMASALAHAN terkait ditemukannya DNA babi dalam salah satu produknya yakni Viostin DS membuat PT Pharos Indonesia angkat bicara. Ida Nurtika selaku Director of Corporate Communication membantah jikalau produk perusahaannya mengandung DNA babi. Namun ia mengakui jikalau bahan baku pembuatan produk tersebut tercemar sehingga ditemukan DNA babi.

"Tidak benar pernyataan yang mengatakan jika Viostin DS mengandung DNA babi. Sebab kami mengandung bahan baku yang berasal dari sapi. Hanya saja setelah dilakukan penelusuran, kami temukan jika bahan baku tersebut telah tercemar," ujar Ida saat ditemui dalam konferensi media, Selasa (6/2/2018) di kawasan Gelora, Jakarta Pusat.

Adapun bahan baku yang digunakan untuk membuat obat nyeri itu adalah chondroitin sulfate. Bahan baku tersebut didapatkan dari pemasok di Spanyol dan dinyatakan terbuat dari sapi. "Saat kami melakukan kerja sama, kami meminta jaminan jika bahan baku tersebut terbuat dari sapi. Jaminan yang kami dapatkan berupa sertifikasi halal dari HCS (Halal Certification Services) yang juga sudah diakui oleh MUI," tambah Ida.

Diceritakan oleh Ida, sejak akhir November 2017 pihaknya sudah mulai melakukan penarikan produk yang beredar di masyarakat lantaran hasil tes post market BPOM yang menyatakan jika produk Viostin DS di satu nomor bets positif mengandung DNA babi. "Kami tidak hanya melakukan penarikan untuk satu nomor bets, tetapi juga semua produk demi tanggung jawab memberikan rasa nyaman kepada konsumen. Proses produksi, promosi, dan penjualan juga sudah dihentikan," terangnya.

Hingga saat ini sekira lebih dari 70% produk telah ditarik dan hal itu masih akan berlangsung hingga tiga bulan ke depan. Ida mengatakan lamanya proses penarikan lantaran banyak produk yang masih tercecer di toko obat kecil, terutama di luar Jawa. PT Pharos Indonesia masih memberi kesempatan kepada toko obat dan konsumen yang masih belum mengetahui atau menyimpan produk tersebut untuk mengembalikannya.

Selain itu, perusahaan tersebut masih belum tahu langkah yang akan dilakukan ke depannya. Perusahaan masih fokus untuk penarikan dan pemusnahan produk. Ida juga enggan mengatakan kerugian yang ditimbulkan akibat peristiwa ini. "Kami tidak fokus pada kerugian dan belum tahu ke depannya akan seperti apa. Hingga saat ini kami masih terus konfirmasi ke BPOM tentang penarikan," tegas Ida.

(hel)