Share

Era Seks Virtual Telah Tiba, Istilah Digiseksual Kian Familiar

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 28 November 2017 10:43 WIB
$detail['images_title']
(Foto: Reuters)

JANGAN heran kalau sekarang semakin banyak pria yang lebih memilih menjalin hubungan dengan robot atau boneka seks. Tidak hanya di Jepang yang memang mengawali kasus ini, percintaan antara manusia dan robot pun diyakini masyarakat Amerika.

Tren yang semakin meningkat seharusnya menjadi tanda kewaspadaan yang harus diperhatikan banyak pihak. Beralihnya rasa sayang yang nyata yang dimiliki manusia ke benda mati menjadi cermin pergeseran logika.

Tidak salah jika Anda akhirnya lebih percaya pada benda mati. Namun, yang perlu disadari di sini, sudah sebegitu putus asanya kah Anda?

Perlu Anda tahu, ketertarikan lebih manusia pada robot sekarang ini bisa dikatakan meningkat. Terlihat dari makin dikembangkannya robot seks yang siap untuk menemani sepinya malam para pria "putus asa".

Dilansir dari Daily Mail, Selasa (28/11/2017), meski teknologinya masih dalam masa pertumbuhan, para insinyur sudah bisa memprogram robot seks untuk memiliki kecerdasan buatan dan 'menjadi hangat saat disentuh'.

Perusahaan pun memproduksi sexbots bergerak dan berbicara yang terjual seharga £ 15.000 atau Rp 271 juta, namun teknologinya akan menjadi lebih murah dari waktu ke waktu. Ya, kekhasan itu pun akhirnya pudar dan robot seks semakin dianggap biasa.

Android Love Doll melakukan 50 'posisi seksual otomatis', sementara boneka Abyss Creations 'Harmony' terhubung ke sebuah aplikasi yang belajar saat pengguna berbicara dengannya. Perusahaan AS tersebut berharap bisa membawa boneka berjalan ke pasar dalam sepuluh tahun ke depan.

Fakta itu memperlihatkan pada kita semua bahwa robot perempuan itu semakin dikembangkan dan siap menggantikan perempuan nyata. Sesuatu yang menyeramkan bukan?

Dengan semakin tingginya pecinta robot di dunia ini, berarti siapa tahu nantinya akan ada psikolog seks khusus robot. Seperti yang diungkapkan banyak pakar seks di dunia.

Lebih khusus lagi, para psikoterapis robot pun perlu dipersiapkan karena semakin banyak 'klien yang berpartisipasi dalam digiseksualitas'. Ya, istilah digiseksualitas dalam kolom 'sexual orientation' pun akan ditambahkan dan itu akan menjadi hal yang sangat lumrah di kemudian hari.

Peringatan tersebut muncul dalam sebuah laporan dari para peneliti etika di Universitas Manitoba di Winnipeg, Kanada. "Kondisi yang demikian akan wajar untuk mengatakan bahwa era seks virtual immersive telah tiba,' kata Dr Neil Mccarthur, direktur pusat universitas untuk etika profesional dan terapan.

(Baca Juga: Edan! Robot Seks Masa Depan Bisa Hasilkan Keturunan, Benarkah?)

Mengingat terbosoan boneka seks dan pencinta pornografi virtual semakin dimudahkan karena banyaknya peminat. Para ahli juga memperingatkan kita semua akan segera melihat peningkatan jumlah orang yang memiliki selera seksual dan emosionalnya hampir sepenuhnya terpuaskan oleh dunia maya.

Bagi banyak orang, teknologi akan membentuk bagian kunci dari identitas mereka, dan beberapa akan memilih untuk memiliki hubungan cinta dengan robot seks dan bukan ke manusia, demikian klaim para peneliti.

(Baca Juga: Model Mengubah Dirinya Jadi Boneka Seks)


(ful)