Share

Nasib Dokter di Daerah Terpencil: Beli Mi Instan Rp50 Ribu, Bawa Pasien Harus Tunggu Pesawat

Agregasi Antara, Jurnalis · Jum'at 03 November 2017 16:49 WIB
$detail['images_title']

JAYAPURA - Dr Leonardo, dokter pegawai tidak tetap (PTT) yang sudah setahun mengabdi di Distrik Kirihi, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua, mengungkapkan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) eceran jenis premium di wilayah itu mencapai Rp100 ribu per liter.

"Harga bensin di Kirihi masih mahal sekali, masyarakat menjualnya dengan harga Rp100 ribu per liter. Mau tidak mau harus beli kalau mendadak dibutuhkan," ujarnya ketika dikonfirmasi dari Jayapura, Jumat (3/11/2017).

Menurut dia, jika berkesempatan pergi ke kota Nabire maka ia berusaha untuk membeli bensin secukupnya, untuk digunakan pada mesin babat yang sering digunakan untuk membabat rumput di halaman rumah dan puskesmas.

"Kalau saya ke kota dan lupa beli bensin, ya terpaksa saya harus beli di Kirihi dengan harga Rp100 ribu per liter, mau tidak mau harus beli karena mau dapat dimana lagi," ujarnya.

Kendati demikian, kata Leonardo, harga sayur-mayur di daerah relatif murah karena banyak dihasilkan masyarakat setempat. Bahkan, warga sering membawakannya sayur untuk dikonsumsi. "Masyarakat di Kirihi sering antarkan saya sayur, tapi saya juga sudah punya kebun sendiri jadi sering panen untuk dimasak," ujarnya.

Namun, ketika ia bepergian ke kota Nabire, tidak hanya membeli bensin, ia juga membeli bumbu dapur dan juga mi instan, serta bahan makanan lainya. "Saya beli mi instan dan ikan kaleng itu berkarton-karton, karena mi instan dijual warga di Kirihi Rp50 ribu per bungkus," ujarnya.

(Baca Juga: Tengok Yuk! Ini Foto-Foto Seragam Pramugari Jadul hingga Zaman Now)

Dokter Leonardo juga mengungkapkan bahwa warga yang tinggal di Kirihi tidak mengenal pecahan uang Rp2.000 hingga Rp20 ribu. "Mereka hanya mengenal pecahan uang Rp50 ribu dan Rp100 ribu, sehingga satu bungkus mi instan pun dijual dengan harga Rp50 ribu," ujarnya.

"Saya heran dan tidak percaya kalau warga yang tinggal di Kirihi menjual satu bungkus mi instan dengan harga Rp50 ribu," ujarnya.

Kirihi adalah satu distrik terjauh dari Kabupaten Waropen. Distrik itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Nabire. Transportasi satu-satunya ke tempat itu dengan menggunakan pesawat berbadan kecil.

(Baca Juga: TERUNGKAP! Ini Alasan Kenapa Diet Biasanya Cuma Dilakukan 2 Pekan)

Tiga Penderita Kaki Gajah

Di tempat terpencil ini, dokter Leonardo menemukan tiga penderita filariasis (kaki gajah) yang sangat membutuhkan pelayanan medis secara kontinyu. "Di Kirihi itu ada tiga penderita filariasis atau biasa disebut kaki gajah. Penderita penyakit hernia juga banyak," katanya.

Ia mengatakan sejak awal pengabdiannya di Kirihi pada Januari 2017, ia memeriksa tiga pasien penderita kaki gajah, dari tujuh pasien yang dilaporkan. Seorang pasien masih gejala awal, namun dua pasien lainnya kakinya semakin membesar dan membutuhkan pelayanan operasi.

"Selain kaki gajah, ada pasien yang kena hernia juga, kalau pasien hernia ini sejak awal ada sekitar empat orang yang juga harus segera dioperasi," ujarnya.

(Baca Juga: Model Brasil Lais Ribero Dipercaya Kenakan Fantasy Bra Victoria's Secret Seharga Rp27 Miliar)

Pasien kaki gajah dan hernia yang diperiksa, kata dia, membutuhkan operasi cepat dan sudah disiapkan surat rujukkannya, akan tetapi karena kesulitan transportasi maka masih tertunda.

Dibutuhkan sarana ransportasi untuk penjemputannya menuju rumah sakit yang dirujuk yakni di Nabire. "Dirujuk ke Nabire karena disana sudah ada dokter spesialisnya, akan tetapi kalau tidak ada dokter spesialis maka tidak menutup kemungkinan akan dirujuk ke Jayapura untuk pengobatan selanjutnya," ujarnya.

(Baca Juga: VIRAL! 2 Remaja Indonesia Cover Lagu "Havana" Milik Camila Cabello yang Ciamik, Penasaran?)

Penyakit lainnya yang dominan di Distrik Kirihi itu, kata dr Leonargo, yaitu penyakit malaria karena daerah itu juga termasuk daerah endemis malaria. Juga adanya perilaku hidup masyarakat di sana yang kurang bersih sehingga banyak masyarakat yang terserang penyakit diare.

1
2