Share

Berpikir Minyak Kedelai Hasil Rekayasa Genetika Itu Sehat? Ilmuwan Punya Kabar Buruk untuk Anda

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Rabu 04 Oktober 2017 14:05 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto: Zeenews)

MINYAK goreng dan khasiat kesehatannya telah lama menjadi topik perdebatan bagi ilmuwan di seluruh dunia. Dengan berbagai jenis minyak di pasar, tidak mengherankan bahwa orang memperdebatkan minyak mana yang lebih sehat.

Minyak kedelai dan minyak kedelai hasil rekayasa genetika (GM) adalah 2 produk yang sifatnya sangat diperdebatkan. Namun, sebuah studi telah menemukan mitos bahwa minyak kedelai GM lebih sehat daripada minyak kedelai biasa, memperingatkan bahwa ini berbahaya bagi fungsi hati.

Menurut peneliti dari University of California-Riverside, minyak kedelai GM kurang menginduksi obesitas dan resistensi insulin dibandingkan minyak kedelai, namun pengaruhnya terhadap diabetes dan fatty liver sama dengan minyak kedelai. Tim tersebut menguji Plenish, minyak kedelai genetika yang diluncurkan DuPont pada 2014.

Plenish direkayasa untuk memiliki asam linoleat rendah, menghasilkan minyak yang serupa dengan komposisi minyak zaitun, dasar diet mediterania dan dianggap menyehatkan. Mereka membandingkan efek metabolik jangka panjang dari minyak kedelai dan minyak Plenish.

Studi ini juga membandingkan kedua minyak kedelai dan Plenish menjadi minyak kelapa, yang kaya akan asam lemak jenuh dan menyebabkan kenaikan berat badan paling sedikit di antara semua diet tinggi lemak yang diuji.

Peneliti utama, Frances Sladek menemukan, ketiga minyak tersebut meningkatkan kadar kolesterol di hati dan darah, mengusir mitos populer bahwa minyak kedelai mengurangi kadar kolesterol. Selanjutnya, para peneliti membandingkan Plenish dengan minyak zaitun. Kedua minyak tersebut memiliki asam oleat tinggi, asam lemak dipercaya dapat mengurangi tekanan darah dan membantu menurunkan berat badan.

"Dalam eksperimen tikus kami, minyak zaitun menghasilkan efek yang sama persis dengan Plenish, lebih banyak efek obesitas daripada minyak kelapa, meski kurang dari minyak kedelai dan sangat berlemak, yang mengejutkan karena minyak zaitun biasanya dianggap paling sehat dari semua minyak nabati," kata peneliti lain, Poonamjot Deol yang dikutip Zeenews, Rabu (4/10/2017).

Plenish, yang memiliki komposisi asam lemak yang mirip dengan minyak zaitun, induced hepatomegali, atau pembesaran hati, dan disfungsi hati, sama seperti minyak zaitun.

"Temuan kami tidak harus berhubungan dengan produk kedelain lainnya seperti kecap, tahu atau produk susu kedelai yang sebagian besar berasal dari kompartemen kedelai yang larut dalam air, minyak, di sisi lain, berasal dari kompartemen yang larut dalam lemak," pungkas Sladek.

(hel)