Share

Menguap Bisa Menular, Benarkah Demikian?

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 01 September 2017 17:36 WIB
$detail['images_title']
Menguap (Foto: Thehealthsite)

ANDA tentu pernah merasa mengantuk di siang hari saat sedang beraktivitas. Bila Anda tidak sempat tertidur karena banyaknya pekerjaan, Anda bisa terus-terusan menguap. Malah tak jarang teman di sekitar Anda yang melihat Anda sedang menguap ikut-ikutan menguap. Begitu juga sebaliknya, Anda biasanya akan ikut menguap bila melihat orang lain menguap. Lalu apakah benar menguap bisa menular?

Menguap adalah refleks yang tidak disengaja agar tubuh memiliki tambahan oksigen lebih sedikit dari yang dibutuhkan. Menguap terjadi tanpa sengaja dan tergolong fenomena gema. Mau sekeras apapun kita menahan diri agar tidak menguap, nyatanya hal itu akan tetap terjadi. Apalagi bila berada di sekitar orang yang sedang menguap.

Menguap adalah bentuk imitasi otomatis di mana seseorang akan melakukan hal yang sama saat orang di sekitarnya menguap. Sebuah penelitian mengungkapkan, kemampuan tubuh untuk menolak menguap saat orang lain melakukan hal yang sama tidak terlalu kuat. Hal yang terjadi justru sebaliknya, semakin ditolak semakin besar keinginan untuk menguap.

Untuk mencari tahu mengapa menguap menular, para ahli melakukan penelitian yang melihat kaitan antara korteks motor dengan neutron. Keduanya terlibat dalam penguapan menular. Para ahli merekrut 36 sukarelawan guna membantu penelitian ini. Mereka diminta melihat klip video yang menunjukkan orang lain menguap dan diinstruksikan untuk menolak menguap atau membiarkan diri mereka menguap. Para ahli kemudian mencatat intensitas menguap para sukarelawan.

Para ahli juga menggunakan stimuli magnetik transkranial (TMS) agar meningkatkan dorongan untuk menguap. Dengan begitu, dapat dilihat rangsangan korteks motor dan diprediksi seberapa besar kemungkinan menguap menular. Dari penelitian ini ditemukan fakta bahwa kecenderungan individu untuk menguap menular ditentukan oleh rangsangan korteks yang meningkat. "Penelitian ini telah menunjukkan bahwa dorongan menguap meningkat saat mencoba menahan diri," kata Georgina Jackson, Profesor Neuropsikologi Kognitif di Institute of Mental Health seperti yang dikutip dari Express, Jumat (1/9/2017).

Menguap sering dikaitkan dengan kondisi lain seperti demensia, autisme, dan sindrom Tourette karena berada di bagian otak yang sama. Hasil penelitian ini juga mengungkapkan dengan memahami mengapa orang menguap, hal itu bisa membantu membalikkan keadaan karena gangguan saraf tertentu.

"Pada gangguan saraf seperti sindrom Tourettes, kita bisa mengurangi rangsangan bila memahami perubahan pada rangsangan kortikal. Dengan adanya penelitian ini, meningkatkan frekuensi menguap menggunakan TMS bisa menjadi cara yang afektif untuk memodulasi ketidakseimbangan di jaringan otak," ungkap Stephen Jackson seorang profesor di School of Psychology.

(vin)