Share

OKEZONE STORY #7: "Mental Orangtua Penyandang Kanker Harus Sekuat Baja"

Tiara Putri, Jurnalis · Minggu 06 Agustus 2017 20:00 WIB
$detail['images_title']
Pinta Manullang dan Anyo (Foto: Dokumentasi pribadi)

HINGGA detik ini, saya masih merasa semuanya unbelievable! Mulai dari harus menerima kenyataan anak saya menyandang leukemia, menemaninya menjalani pengobatan, hingga harus menyaksikannya berpulang ke Yang Maha Kuasa. Saya tidak percaya bisa mendapatkan kekuatan untuk melewati semuanya itu.

Kekuatan itu coba saya bagikan kepada orangtua lain yang juga sedang berjuang menemani anaknya yang terkena kanker. Saya mencoba membantu mereka melalui Yayasan Anyo Indonesia (YAI) dan Rumah Anyo. Melalui yayasan ini, saya juga ingin meningkatkan kesadaran kepada masyarakat mengenai kanker pada anak. (Baca Juga: OKEZONE STORY #1: "Setelah Anyo Tiada, Terpikir dalam Benak Saya Membantu Anak-Anak Penyandang Kanker Lainnya")

Untuk itu, saya sering melakukan penyuluhan bersama petugas kesehatan ke berbagai kota untuk membagikan pengalaman, buku, dan video tentang kanker pada anak. Saya berharap apa yang saya lakukan bisa membuat banyak orangtua lebih waspada terhadap keadaan anaknya. Jadi, apabila anak mereka mengalami hal yang sama seperti anak saya, Anyo, mereka sudah tahu apa yang harus diperbuat. (Baca Juga: Okezone Story #2: "Berdamai dengan Diri Sendiri dan Ikhlas Membuat Saya Bisa Menerima Kenyataan Anyo Menyandang Leukemia)

Pesan saya kepada orangtua yang anaknya didiagnosis terkena kanker adalah tetap semangat dan menerimanya dengan ikhlas. Mental orangtua dituntut harus sekuat baja. Walaupun hati mereka hancur, mereka harus bisa tersenyum di depan anaknya. Bila orangtuanya kuat, anak pun menjadi kuat karena dia bisa merasakan aura semangat dari orangtuanya.

Orangtua juga jangan saling menyalahkan dan bertengkar. Banyak kasus di mana orangtuanya malah tidak menjaga keharmonisan keluarga dan bahkan bercerai ketika mengetahui anak mereka terkena kanker. (Baca Juga: Okezone Story #3: "Sepulang dari Amsterdam dengan Anyo, Anak Terakhir Saya Sempat Tidak Mengenali")

Hal-hal seperti itu malah membuat anak menjadi down karena merasa dialah penyebab orangtuanya bertengkar. Jika sudah begitu, anak akan menjadi stres. Dampaknya pengobatan yang sudah dia lakukan menjadi sia-sia. Sebab, stres berlebihan bisa menganulir obat yang diterimanya.

Bagi saya, semangat berperan besar agar anak bisa menjalani pengobatan. Kalau semangat saja sudah runtuh, rasanya sulit untuk melakukan pengobatan. Apalagi pengobatan pasien kanker itu membutuhkan waktu yang lama dan tidak tahu ujungnya sampai kapan. Di sinilah peran orangtua untuk terus menyemangati anaknya ketika mereka (anaknya) sudah mulai merasa jenuh dengan pengobatan. (Baca Juga: 8 Langkah Tepat untuk Mencegah Penyakit Ginjal)

Orangtua juga harus tetap berdoa dan berusaha memberikan perawatan yang terbaik bagi anak. Saran saya ketika orangtua mendapatkan informasi dari dokter bahwa anak mereka ada indikasi terkena kanker, langsung lakukan biopsi.

Jangan membuang-buang waktu hanya untuk memikirkan berbagai pertimbangan dan mengecek ke dokter lain. Dengan dibiopsi, dokter bisa lebih cepat menentukan jenis kanker yang disandang anak sehingga langsung bisa dilakukan pengobatan yang sesuai jadi kondisi anak tidak semakin parah.

Orangtua harus mempercayakan pengobatan anak kepada dokter. Jalinlah komunikasi yang terbuka pada dokter dan suster. Jangan malu untuk bertanya jika ada yang tidak dimengerti.

Sebagai orangtua, kita tidak boleh menyerah apabila anak menyandang kanker. Kita harus tetap berusaha memberikan pengobatan yang terbaik untuk anak karena umur ada di tangan Tuhan. Kita harus menghargai setiap prosesnya. Perubahan fisik pada anak saat menjalani kemoterapi itu wajar.

Penting yang harus diingat adalah anggap anak yang menyandang kanker itu adalah anak yang normal. Jangan batasi aktivitas mereka karena bagaimanapun mereka masih membutuhkan hidupnya dan memiliki hak untuk bermain maupun bersekolah.

Jangan juga melarang anak lain untuk bermain dengan anak penyandang kanker, sebab kanker tidak menular. Justru anak yang menyandang kanker lebih berisiko tinggi tertular penyakit dari anak lain yang sedang sakit karena daya tahan tubuhnya lebih lemah.

Terakhir, jangan lupa untuk terus cek ke dokter bila anak dinyatakan sembuh. Berkaca dari kejadian yang saya alami, kanker itu bisa datang lagi walaupun sudah dilakukan pengobatan yang paling maksimal.

(hel)