Share

OKEZONE STORY #6: "Ketika Semuanya Dilakukan dengan Hati, Hasilnya Akan Lebih Terasa Menyentuh"

Tiara Putri, Jurnalis · Sabtu 05 Agustus 2017 20:00 WIB
$detail['images_title']
Pinta Manullang Pangabean (Foto: Dokumentasi pribadi)

SEJAK awal berdiri saya bersama pengurus lainnya ingin menjadikan Rumah Anyo sebagai rumah kedua bagi anak-anak penyandang kanker. Untuk itulah kami menyediakan fasilitas seperti tempat tidur, ruang bermain, makanan, dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Tidak ada syarat khusus untuk mereka tinggal sementara di sini. Kami berusaha menampung semua anak dan pendamping yang datang ke sini. Apabila mereka mampu, mereka boleh membayar iuran Rp 5.000,- per hari. (Baca Juga: OKEZONE STORY #1: "Setelah Anyo Tiada, Terpikir dalam Benak Saya Membantu Anak-Anak Penyandang Kanker Lainnya")

Tapi jika tidak mampu, kami membebaskannya. Hanya saja, kami melarang pendamping untuk merokok karena Rumah Anyo adalah area bebas asap rokok. Semua pasien kanker dan pendampingnya juga harus hidup bergotong-royong merawat rumah.

(Foto: Dokumentasi pribadi)

Di rumah ini tidak ada tenaga khusus untuk membersihkan rumah. Maka kebersihan rumah menjadi tanggung jawab bersama. Selain itu, mereka juga harus bisa berbaur layaknya keluarga besar karena di rumah ini tidak ada kamar khusus. Mereka harus hidup secara berdampingan dan bersama-sama. (Baca Juga: Okezone Story #2: "Berdamai dengan Diri Sendiri dan Ikhlas Membuat Saya Bisa Menerima Kenyataan Anyo Menyandang Leukemia)

Pada awalnya, memang belum banyak yang tahu mengenai Rumah Anyo dan Yayasan Anyo Indonesia (YAI). Tapi saya bersama yang lain tetap melayani anak-anak penyandang kanker sesuai dengan program yang telah dibuat. Seiring berjalannya waktu, program yayasan mulai banyak diketahui oleh masyarakat.

Masyarakat banyak bercerita ke orang lain yang memiliki empati untuk membantu anak-anak pasien kanker. Bantuan dari donatur pun mulai berdatangan dan kami bisa terus membangun Rumah Anyo. Cerita dari masyarakat juga membuat semakin banyak anak-anak penyandang kanker yang datang ke Rumah Anyo. (Baca Juga: Okezone Story #3: "Sepulang dari Amsterdam dengan Anyo, Anak Terakhir Saya Sempat Tidak Mengenali")

Saya sering menjadi pembicara untuk mengedukasi orangtua di Jakarta dan luar kota mengenai kanker pada anak. Saat itulah saya sekalian memperkenalkan YAI dan Rumah Anyo melalui sebuah buku edukasi tentang waspada kanker pada anak.

Kegiatan rutin yang biasa dilakukan oleh YAI untuk memeringati hari kanker sedunia adalah Anyo Run. Kegiatan ini adalah bentuk upaya dari kami untuk meningkatkan kesadaran pada masyarakat tentang kanker pada anak.

Karena semakin banyak orang yang tahu mengenai acara Anyo Run, kami juga sekalian menjadikan acara ini sebagai ajang perkenalan YAI dan Rumah Anyo ke masyarakat luas. Melalui acara ini juga kami bisa sekalian melakukan penggalangan dana. Dengan program yang kami lakukan, masyarakat bisa melihatnya sendiri dan pada akhirnya memberi bantuan. (Baca Juga: 8 Langkah Tepat untuk Mencegah Penyakit Ginjal)

Di Rumah Anyo sendiri tidak ada kegiatan khusus bagi anak-anak. Kami benar-benar menjadikan rumah ini sebagai rumah kedua mereka. Kami sadar mereka mungkin sudah lelah dengan pengobatan dan sekolahnya yang tidak fokus, jadi di rumah ini kami membebaskan aktivitas mereka.

Tapi saya membebaskan bila ada orang lain yang ingin mengadakan event seperti syukuran, perayaan ulang tahun, buka puasa bersama, atau bahkan yang ingin membawa anak-anak berpergian. Ada juga yang datang untuk mengajar, membawakan bacaan, dan membuat kegiatan agar anak-anak tidak merasa bosan.

Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan itu anak-anak bisa merasa senang. Ada juga yang datang untuk mengajar, membawakan bacaan, dan membuat kegiatan agar anak-anak tidak merasa bosan. Bagaimanapun juga mereka masih anak-anak, mereka masih senang bermain.

Dari YAI dan Rumah Anyo, saya mencoba untuk menularkan kebaikan dan energi kepada orang lain agar sama-sama peduli terhadap anak-anak yang menyandang kanker. Ketika saya bertemu dengan orang lain yang semangatnya sama dengan saya, rasanya tidak dapat terlukiskan. Saya hanya bisa bilang, ketika semuanya dilakukan dengan hati, hasilnya akan lebih terasa menyentuh.

(hel)