Share

OKEZONE STORY #5: "Saya Ingin Terus Membantu Anak-Anak yang Menyandang Kanker"

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 04 Agustus 2017 20:00 WIB
$detail['images_title']
Pinta Manullang Pangabean (Foto: Tiara/Okezone)

SEBELUM Anyo tiada, saya sudah aktif di sebuah yayasan kanker. Setelah Anyo berpulang, saya masih aktif di yayasan itu. Saya banyak melihat anak-anak penyandang kanker masih bisa tersenyum dan orangtuanya walau dalam keadaan terpuruk masih bisa semangat. Dari situlah saya belajar untuk bangkit dari kesedihan karena Anyo telah tiada.

(Baca Juga: OKEZONE STORY #1: "Setelah Anyo Tiada, Terpikir dalam Benak Saya Membantu Anak-Anak Penyandang Kanker Lainnya")

Saya mulai membagikan pengalaman saya ketika menemani Anyo menjalani pengobatan kepada orangtua lainnya. Saat saya berbagi cerita, itu semacam obat buat saya. Rasanya seperti self healing, sulit untuk dideskripsikan. (Baca Juga: OKEZONE STORY #4: "Bukan Ingin Mendahului Tuhan, Pengobatan Paling Top Sudah Dijalani, Tapi Tuhan Punya Rencana Lain")

Melihat anak-anak bisa tersenyum dan orangtuanya tetap semangat membuat saya semakin bersyukur. Hati senang dan perasaan gembira bagi saya adalah obat. Saya makin memiliki banyak keinginan untuk membantu anak-anak penyandang kanker lain. (Baca Juga: Okezone Story #2: "Berdamai dengan Diri Sendiri dan Ikhlas Membuat Saya Bisa Menerima Kenyataan Anyo Menyandang Leukemia)

Mungkin waktu saya untuk menemani Anyo menjalani pengobatan sudah selesai. Tapi kini saatnya saya membantu Anyo yang lain, karena masih banyak anak-anak yang membutuhkan bantuan. Suami saya lalu mendirikan Yayasan Anyo Indonesia (YAI) yang berdiri sejak 27 Juni 2012 dan saya menjadi ketuanya. Saya fokus bekerja di balik layar untuk YAI.

(Foto: Dokumentasi pribadi)

Saya merancang program jangka pendek dan panjang agar yayasan ini bisa tetap bertahan. Selama aktif di yayasan kanker, saya banyak belajar dan melihat bagaimana cara relawan membantu anak-anak penyandang kanker. Pengalaman yang saya dapatkan dari yayasan lain memperkaya wawasan saya dan saya coba praktekkan di YAI. Di yayasan ini saya dibantu oleh dua orang pengurus lainnya.

Namun ketika saya membutuhkan bantuan, banyak relawan yang siap untuk membantu saya. Bagi saya, itulah gunanya menjaga hubungan baik dengan para donatur, pemerhati kanker, dan relawan. (Baca Juga: Okezone Story #3: "Sepulang dari Amsterdam dengan Anyo, Anak Terakhir Saya Sempat Tidak Mengenali")

Bertemu dengan orang lain yang semangatnya sama seperti saya untuk membantu kanker bisa menularkan kebaikan dan energi. Saya menganggap YAI ini sebagai fasilitator di mana memiliki tujuan untuk menolong anak-anak dari segala segi. Saya berusaha mewujudkan keinginan anak-anak itu agar bisa tercapai. Sesuai dengan misi yayasan ini untuk meringankan beban keluarga yang memiliki kanker, kami menyediakan fasilitas Rumah Anyo yang bisa ditempati oleh pasien kanker dari berbagai daerah termasuk pinggiran Jakarta.

Saya menyadari biaya transportasi anak-anak itu bersama keluarganya datang ke Jakarta cukup mahal. Belum lagi sewa rumah dan biaya hidup di Jakarta tidaklah murah. Saya merasakan keuntungan ketika tinggal di rumah yang mirip Rumah Anyo saat menemani Anyo menjani perawatan di Belanda. Untuk itu Rumah Anyo didirikan.

(Foto: Tiara/Okezone)

Rumah Anyo adalah rumah sementara bagi anak-anak penyandang kanker yang sedang menjalani pengobatan di Jakarta. Di sini, kami menerima pasien kanker anak-anak berusia 0 – 18 tahun beserta dengan satu orang pendamping. Kapasitas rumah ini memang terbatas. Maka dari itu kami hanya menerima satu anak penyandang kanker, satu pendamping. Tapi tidak menutup kemungkinan anak bisa ditemani oleh dua orang pendamping bila berada dalam kondisi tertentu seperti masih balita dan membutuhkan perhatian khusus. Kami memang tidak terlalu ketat karena kenyamanan mereka tetap yang utama.

Rumah Anyo ini terletak di Jalan Anggrek Nelli Murni Blok A/110, Slipi, Jakarta Barat. Letaknya memang sengaja dekat dengan RS Kanker Dharmais agar memudahkan akses pasien kanker dan keluarganya. Pasien dan keluarganya bebas untuk tinggal di sini sampai kapan karena pengobatan kanker itu bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Dari awal berdiri hingga sekarang, tercatat sudah ada 301 pasien kanker yang tinggal sementara di Rumah Anyo, tapi 61 orang di antaranya sudah meninggal dunia. Rumah ini sendiri bisa menampung hingga 18 orang. Tapi kalau penuh, mereka tidak keberatan untuk menggelar tempat tidur tambahan. Hal itu memang bisa terjadi kalau jadwal berobat pasien bersamaan.

Di lain waktu, rumah ini bisa sepi sekali karena anak-anak sedang kembali ke kampung untuk melanjutkan aktivitasnya. Nanti bila tiba saatnya mereka menjalani pengobatan, rumah ini kembali penuh, begitu seterusnya. Kalau sedang sepi biasanya hanya ada satu atau dua orang anak yang tinggal.

Masih penasaran dengan Yayasan Anyo Indonesia atau Rumah Anyo? Tunggu kelanjutan ceritanya hanya di Okezone setiap pukul 20.00 WIB.

(hel)