Share

Okezone Story #2: "Berdamai dengan Diri Sendiri dan Ikhlas Membuat Saya Bisa Menerima Kenyataan Anyo Menyandang Leukemia

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 01 Agustus 2017 20:00 WIB
$detail['images_title']
Pinta Manullang dan Anyo (Foto: Dokumentasi pribadi)

TIDAK pernah terlintas di benak saya bahwa anak pertama saya, Anyo menyandang leukemia. Terlebih Anyo sebenarnya adalah anak yang aktif, disiplin, senang makan buah dan sayur, serta banyak minum air putih.

Selain itu, baik saya maupun anggota keluarga lainnya tidak ada yang memiliki riwayat penyakit kanker. Tapi kuasa Tuhan siapa bisa melawan? (Baca Juga: OKEZONE STORY #1: "Setelah Anyo Tiada, Terpikir dalam Benak Saya Membantu Anak-Anak Penyandang Kanker Lainnya")

Pada awalnya kami, terutama saya mulai menyadari ada yang tidak beres dengan Anyo ketika dia berusia 11 tahun. Waktu itu Anyo sudah duduk di bangku kelas 6 SD. Tubuhnya semakin kurus, sering demam, dan mukanya pucat.

(Foto: Dokumentasi pribadi)

Suhu badan Anyo memang selalu turun saat dikasih obat. Ketika berobat, dokter pun hanya memberikan informasi bahwa dia sakit tifus atau terkena virus. Di situlah saya penasaran sebenarnya anak saya sakit apa. (Baca Juga: 8 Langkah Tepat untuk Mencegah Penyakit Ginjal)

Setelah pembagian laporan belajar, akhirnya saya memutuskan untuk membawa Anyo berobat ke dokter spesialis guna menjalani pemeriksaan tes darah. Dari hasil tes baru ketahuan bahwa leukositnya Anyo tinggi sekali.

Dokter anak itu lalu merujuk Anyo ke seorang ahli RSCM. Setelah melakukan biopsi, ternyata benar Anyo menyandang leukemia jenis ALL. (Baca Juga: Waspada Penyakit Rubella, Jangan Lupa Bawa Anak Anda Imunisasi MR di Bulan Agustus)

Saat mengetahui hal itu, hati saya sebagai seorang ibu tentunya hancur. Terlebih dengan keterbatasan informasi yang saya miliki tentang leukemia sempat membuat saya bingung. Tapi saya mencoba berdamai dengan diri sendiri dan menerima kenyataan bahwa anak saya memiliki penyakit yang serius. Saya sempat mengalami masa-masa di mana menangis semalaman bersama suami.

Tapi kemudian kami sadar bahwa penyakit yang diderita Anyo tidak bisa menunggu. Kanker adalah penyakit yang terus berkembang. Kami kemudian berusaha bangkit dan tidak mau kalah dengan penyakit Anyo. (Baca Juga: Cegah Campak dan Rubella, Ayo Bawa Anak Suntik Vaksin MR Agustus Nanti, Gratis!)

Dukungan keluarga saat itu menjadi hal yang sangat penting. Kami harus sepikiran dan satu hati. Satu hal yang paling penting adalah tidak ribut dengan pasangan hidup.

Tidak sedikit pasangan yang saling menyalahkan ketika anak mereka memiliki penyakit yang serius. Padahal, sebagai pasangan kita harus selalu kompak dan satu kata dalam menentukan perawatan mana yang terbaik untuk mengobati penyakit anak.

Dengan begitu anak tidak menjadi bingung tentang pengobatan yang dilakukannya. Kami pun selalu meminta doa dari setiap orang yang kami temui untuk kesembuhan Anyo. Sebagai orang yang beragama, kita pun harus punya iman yang teguh sehingga bisa menerima dengan ikhlas terhadap rencana Tuhan yang menghendaki anak sakit.

Sejak awal memang saya tidak merahasiakan kepada Anyo tentang penyakitnya. Hal itu membuat dia bisa lebih mudah menerimanya. Dengan keterbukaan, Anyo menjadi lebih mengerti tentang sakit yang dideritanya. Dia menjadi lebih tahu apa tindakan apa yang boleh dan harus dihindari.

Tak hanya itu, keterbukaan membuat Anyo bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dia bisa menerima kenyataan dan memiliki semangat untuk menjalani pengobatan dengan lancar.

Setelah semuanya bisa kami terima, saya dan bapaknya Anyo mulai mempersiapkan pengobatan untuk Anyo. Kami memutuskan Anyo menjalani perawatan di Amsterdam, Belanda. Kami pun sering bolak-balik Jakarta – Amsterdam.

(hel)