Share

Brugada Syndrome, Penyakit yang Diduga Membuat Dokter Anestesi Meninggal

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 29 Juni 2017 17:15 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Dokter (foto: Shutterstock)

KABAR mengenai meninggalnya dokter spesialis anestesi Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, dr Stefanus Taofik, Sp.An sempat membuat heboh media sosial.

Semula dr Stefanus dikabarkan meninggal karena kelelahan usai berjaga lima hari berturut-turut. Namun setelah diklarifikasi dr Stefanus hanya berjaga 2x24 jam.

Bahkan kabar terbaru mengungkapkan bahwa dr Stefanus mengalami Brugada Syndrome, sebuah kondisi di mana ritme jantung tidak normal. Mengenai hal ini, Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr M. Adib Khumaidi, Sp.OT tidak mau banyak berkomentar ketika dihubungi oleh Okezone, Kamis (29/6/2017) melalui sambungan telepon.

(Baca juga: Seorang Dokter Meninggal Dunia Akibat Kelelahan Piket Lebaran)

“Itu kan masih praduga. Kami belum mau berkomentar banyak. Terlebih yang boleh mengetahui secara pasti mengenai apakah ada penyakit itu atau tidak hanya keluarganya dan rumah sakit yang pernah memeriksa kesehatannya,” ujar dr Adib.

Lalu sebenarnya apa itu Brugada Syndrome? Dilansir dari Zeenews, Brugada Syndrome adalah gangguan irama jantung yang bisa mengancam keselamatan. Kondisi ini jarang terjadi namun bisa menyebabkan mereka yang mengalaminya bisa terkena serangan jantung mendadak tanpa gejala apapun.

Ritme jantung yang tidak normal atau disebut aritmia bisa mengakibatkan pingsan dan berakibat fatal. Maka dari itu, bagi Anda yang sering pingsan mendadak dan rasanya memiliki detak jantung yang tidak normal disarankan untuk segera memeriksa kesehatan Anda ke dokter.

“Jantung memiliki sel khusus di ruang atas sebelah kanan yang memicu impuls listrik untuk diarahkan ke suatu saluran pori-pori untuk membuat detak jantung. Pada kasus Brugada syndrome, terdapat cacat pada saluran yang menyebabkan jantung berdetak tidak normal dan berputar secara elektrik dari dalam ritme yang tidak normal dan berbahaya,” kata Subhash Chandra, Ketua dan Kepala Kardiologi di Rumah Sakit Khusus BLK Super Specialty.

(Baca juga: Dokter Jaga Meninggal, Bagaimana Sebenarnya Jam Kerja Dokter Anestesi?)

Lebih lanjut Chandra menjelaskan, selama Brugada Syndrome, ada pemompaan pada jantung yang tidak efektif dan menyebabkan kurangnya pasokan darah ke seluruh tubuh. “Hal ini bisa menyebabkan pingsan jika irama berlangsung hanya dalam waktu singkat. Bahkan jantung bisa berhenti mendadak apabila ritme detaknya terus buruk,” tambah Chandra.

Menurut Shashank Gupta, dokter di departemen kardiologi Rumah Sakit Ram Manohar Lohia, Brugada Syndrome baru terdeteksi saat pasien berusia 30an atau 40an.

“Sindrom ini biasanya didiagnosis pada orang dewasa tetapi kadang-kadang pada remaja, jarang didiagnosis pada anak kecil. Namun apabila ada anggota keluarga lain yang mengidap sindrom ini, besar kemungkinannya untuk Anda terkena sindrom ini,” tutur Gupta.

Gupta mengatakan bahwa Brugada Syndrome lebih sering terjadi pada pria dan hanya bisa dideteksi pada EKG dengan pola abnormal yaitu pola EKG Brugada tipe 1. Selain riwayat keluarga, faktor risiko lainnya adalah demam.

Meski mengalami demam tidak menyebabkan Brugada Syndrome dengan sendirinya, hal itu bisa mengiritasi jantung dan menstimulasi serangan jantung yang samar atau mendadak, terutama pada anak-anak. Laki-laki dengan golongan ras Asia pun memiliki kemungkinan besar untuk mengalami sindrom ini.

Follow Berita Okezone di Google News

(fid)