Share

Peredaran Vaksin Palsu, Peristiwa yang Gegerkan Dunia Kesehatan Indonesia di 2016

Helmi Ade Saputra/Dewi Kania, Jurnalis · Minggu 01 Januari 2017 16:34 WIB
$detail['images_title']
Vaksin palsu gegerkan dunia kesehatan Indonesia (Foto: Celiac)

PERTENGAHAN 2016, Indonesia dibuat heboh oleh peredaran vaksin palsu. Tak ada yang menyangka, banyak balita menjadi korban vaksin palsu yang didapat dari sejumlah bidan dan rumah sakit.

Kasus ini berawal dari penggerebekan gudang pabrik pembuatan vaksin palsu di wilayah Pondok Aren, Tangerang Selatan. Pabrik tersebut memproduksi sejumlah vaksin palsu, mulai dari vaksin campak, polio, hepatitis B, tetanus, dan BCG.Vaksin palsu tersebut diperjualbelikan ke sejumlah rumah sakit di DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Selanjutnya, Bareskrim Mabes Polri membongkar jaringan vaksin palsu pada Juni 2016. Salah satu rumah yang digerebek adalah milik pasangan suami-istri Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina di kompleks perumahan elit Kemang Pratama Regency, Rawalumbu, Kota Bekasi.

Dari penggerebekan itu, penyidik menyita barang bukti berupa ribuan botol yang telah terisi cairan vaksin palsu. Sedangkan, tersangka lainnya berasal dari perusahaan distributor obat dan sejumlah dokter yang terlibat dalam peredaran vaksin palsu tersebut.

Beberapa selang waktu, terungkap juga klinik bidan pemakai vaksin palsu di kawasan Ciracas, Jakarta Timur. Nama bidan E sempat tenar akibat peredaran vaksin palsu ini.

Polisi saat menggelar barang bukti vaksin palsu (Foto: Okezone)

 

Menkes beberkan faskes yang terlibat vaksin palsu

Tidak lama kemudian, Menteri Kesehatan RI Prof Nila F Moeloek dipanggil oleh DPR. Dalam pertemuan itu, Menkes membeberkan daftar nama rumah sakit, klinik dan bidan penerima vaksin palsu. Pun, dia membeberkan sembilan provinsi yang menjadi sasaran peredaran vaksin palsu.

(Foto: Antara)

Ada 14 rumah sakit swasta dan delapan klinik bidan yang diungkap menjadi pengguna vaksin palsu. Berikut daftar rumah sakit penerima vaksin palsu:

1. RS Dr Sander Batuna, Cikarang Utara, Bekasi

2. RS Bhakti Husada, Cikarang Utara, Bekasi

3. RS Sentra Medika, Cikarang, Bekasi

4. RSIA Puspa Husada, Tambun Selatan, Bekasi

5. RS Karya Medika, Cikarang Barat, Bekasi

6. RS Kartika Husada, Jatiasih, Bekasi

7. RSIA Sayang Bunda, Pondok Ungu Permai, Bekasi

8. RSU Multazam Medika, Tambun Selatan, Bekasi

9. RS Permata Bekasi

10. RSIA Gizar, Cikarang Selatan, Bekasi

11. RS St Elisabeth, Bojong Rawalumbu, Bekasi

12. RS Hosana Medica Lippo Cikarang 13. RS Hosana Medica Bekasi

14. RS Harapan Bunda, Ciaracas, Jakarta Timur

Selain rumah sakit, nama-nama bidan penerima vaksin palsu juga diumumkan. Berikut daftarnya:

1. Bidan Lia, Kp. Pelaukan Sukatani, Kabupaten Cikarang

2. Bidan Lilik, Perum Graha Melasti, Tambun, Bekasi

3. Bidan Klinik Tabina, Perum Sukaraya, Sukatani Cikarang, Kabupaten Bekasi

4. Bidan Iis, Perum Seroja, Bekasi

5. Klinik Dafa Dr. Baginda, Cikarang

6. Bidan Mega, Puri Cikarang Makmur, Sukaresmi

7. Bidan M Elly Novita, Ciracas, Jakarta Timur

8. Klinik dr Ade Kurniawan, Rawa Belong, Slipi, Jakarta Barat.

Pemberian vaksin ulang

Setelah terungkapnya daftar fasilitas kesehatan tersebut, masyarakat menjadi resah. Salah satu rumah sakit yang digeruduk oleh orangtua korban vaksin palsu yakni RS Harapan Bunda, Jakarta Timur.

Orangtua korban meminta pertanggungjawaban kepada manajemen rumah sakit atas kasus ini. Mendadak suasana rumah sakit menjadi 'panas' akibat peredaran vaksin palsu.

Pada saat itu, pihak rumah sakit pun berjanji memberikan vaksin ulang kepada anak-anak yang menjadi korban. Di sinilah pemerintah pun turun tangan dalam menangani kasus peredaran vaksin palsu.

Ya, Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan RI Prof Nila F Moeleok mendatangi puskesmas di kawasan Ciracas, Jakarta Timur untuk menyaksikan langsung kegiatan vaksin ulang. Banyak orangtua mengantar anaknya untuk mendapat vaksin baru.

Presiden Jokowi dan Menkes tinjau vaksin ulang di Ciracas (Foto: Kemenkes)

Kementerian Kesehatan RI mendirikan posko vaksin ulang agar memudahkan masyarakat. Posko dibuka di RS Harapan Bunda, RSU Ciracas, dan sejumlah rumah sakit di Bekasi.

Presiden Jokowi menanggapi bahwa kasus peredaran vaksin palsu ini merupakan satu kejahatan luar biasa. Dampaknya akan sangat berpengaruh pada kelangsungan generasi yang akan datang.

"Kita kan tau misalnya anak-anak dianggap sudah divaksin polio, ternyata palsu, ternyata belum. Berbahaya sekali, ini kejahatan luar biasa sekali. Berbahaya sekali," ujar Jokowi kalai itu.

Presiden ketujuh ini mengutus Kapolri dan Kementerian Kesehatan RI untuk mengusut kasus vaksin palsu yang ternyata sudah berjalan selama 13 tahun. Dia meminta agar pelaku kejahatan vaksin palsu ini dihukum seberat-beratnya.

"Untuk hukumannya, betul-betul jangan terulang lagi, berikan hukuman seberat-beratnya. Baik pada yang produksi, mengedarkan, memasarkan, semuanya," katanya.

Proses hukum

Proses hukum terhadap para pelaku peredaran vaksin palsu masih terus berjalan. Pada 11 November 2016, sebanyak 19 terdakwa kasus vaksin palsu menjalani persidangan perdana secara bergiliran di Pengadilan Negeri Bekasi. Di antara terdakwa yang menjalani sidang itu, yakni pasangan suami istri Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina, produsen vaksin palsu.

Dalam sesi sidang pertama, dimulai dengan pembacaan dakwaan terhadap terdakwa Sutarman yang merupakan pemilik apotek yang membeli vaksin palsu dari Hidayat dan Rita. Dalam dakwaan JPU, dia dituntut Pasal 197 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

Pada berkas dakwaan tertulis, Sutarman sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1). Akibat perbuatannya, ia terancam penjara paling lama 15 tahun serta denda paling banyak Rp1,5 miliar.

Sementara terdakwa Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina didakwa pasal serupa, yakni Pasal 197 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Terdakwa lainnya adalah Kartawinata alias Ryan, H. Syafrizal dan Iin Sulastri, Nuraini, Sugiyati alias Ugik, Nina Farida, Suparji Ir, Agus Priayanto, M. Syahrul Munir, Seno, Manogu Elly Novita, Thamrin alias Erwin, Mirza, Sutanto bin Muh Akena, Irnawati, dan Muhamad Farid

1
4