Share

Kenali Kondisi Pasien Anxiety Disorder dan Gejalanya

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 03 Desember 2015 06:32 WIB
$detail['images_title']
Gejala anxiety disorder (Foto; Therapist)

MUNGKIN di sekitar Anda pernah menjumpai orang yang alami cemas berlebihan atau dikenal dengan istilah anxiety disorder. Lantas seperti apa sih kondisi dan gejala gangguan tersebut?

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dr Andri SpKJ menjelaskan, anxiety disorder merupakan gangguan kecemasan berlebihan, akibat seseorang yang mengalami menyimpan memori lama di dalam otaknya saat mendapatkan sesuatu yang membuatnya trauma. Namun dr Andri juga membantah bahwa penyakit ini disebabkan faktor genetik alias keturunan.

"Anxiety disorder tidak ada hubungannya dengan genetik. Biasanya masalah ini dihubungkan dengan kondisi cemas panjang. Misalnya seseorang mendapat pengalaman buruk sepanjang hidupnya, seperti melihat keluarganya sakaratul maut," ujar dr Andri saat bertandang ke News Room Okezone, HighEnd Building, kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Lebih lanjut, dokter yang praktek di OMNI Hospital Alam Sutera itu menambahkan, gejala seseorang yang mengalami anxiety disorder sangat mudah yakni, cepat cemas atau panik saat menghadapi sesuatu hal.

"Bahkan kalau sudah parah, gejalanya hampir sama dengan orang stroke. Tubuhnya kaku, kram, jantungnya berdebar-debar, hingga sesak napas," imbuh dia.

Berdasarkan populasi, kata dr Andri, 90 persen wanita lebih mudah mengalami anxiety disorder, dibandingkan pria. Bahkan wanita yang mengalami masalah ini, tubuhnya lebih mudah merasa sakit, karena kekurangan kalsium.

Lalu apakah masalah anxiety disorder dapat disembuhkan? Ya, dr Andri mengatakan, pasien anxiety disorder dapat disembuhkan dengan terapi dokter atau relaksasi diri sendiri.

"Terapi gangguan kejiwaan sebenarnya gak harus datang ke dokter jiwa. Terapi sendiri di rumah bisa dengan olahraga, meditasi, dan ibadah yang sudah diteliti punya efek mengurangi depresi," terang dr Andri.

Apabila pasien anxiety disorder memilih terapi dengan dokter kesehatan jiwa, tujuannya yaitu dapat menyeimbangkan sistem saraf pusat.

"Kalau cara terapi sendiri di rumah tidak dapat membantu, kemana-mana pasiennya jadi takut ketemu sama orang, dan ini biasanya ke dokter," tutup pria yang juga berprofesi sebagai dosen kedokteran di sebuah universitas swasta di Jakarta.

Follow Berita Okezone di Google News

(ren)