Share

Takut Lebih Berbahaya dari Kecemasan

Erika Kurnia, Jurnalis · Kamis 12 November 2015 14:33 WIB
$detail['images_title']
Takut lebih bahaya dari kecemasan (Foto: Roughcity)

MEMBAYANGKAN kemungkinan terburuk tentang sesuatu bisa membuat kita takut atau cemas. Walau kedua respons tersebut merupakan hal yang manusiawi, namun bila salah satunya muncul terlalu sering, itu bisa menjadi sesuatu yang buruk dan perlu dikhawatirkan.

Pakar Kesehatan Jiwa yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dan Presiden ASEAN Federation for Psychiatry and Mental Health (AFPMH), dr Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ (K) mengatakan bahwa takut dan cemas berbeda.

"Takut atau 'fear' adalah respons fisiologis yang muncul saat kita sudah berhadapan dengan bencana. Sementara, cemas atau ansietas muncul ketika bencana belum terjadi, dan ini sifatnya patologik atau menyebabkan penyakit," terangnya dalam acara seminar media berjudul 'Mengendalikan Kecemasan untuk Hidup Lebih Berkualitas' bersama Pfizer, di Jakarta, kemarin.

Cemas sendiri bisa menjadi sesuatu yang buruk bila tidak dikontrol. Namun, kecemasan sering tidak disadari dan bisa menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, kata dr Danardi. Faktor genetik bawaan, kepribadian, dan kondisi lingkungan adalah hal-hal terkait munculnya kecemasan.

"Kecemasan tidak hanya memicu gejala fisik, tetapi juga psikologis. Selain mengalami gejala seperti jantung berdebar, diare, pusing, keringat dingin, dan sesak napas orang cemas juga bisa memiliki gejala psikologis, seperti khawatir, was-was, gugup, atau ketakutan," lanjutnya.

Sebenarnya, setiap manusia mempunya karakter dan berbagai mekanisme perlawanan yang membentuk pola seseorang dalam menghadapi kecemasan yang dialami, kata dr Danardi. Jika karakter yang dimiliki positif dan mekanisme perlawanan yang digunakan tepat, maka individu tersebut bisa menghadapi dan mengendalikan gangguan dengan baik.

"Namun bila karakter yang dimiliki negatif, maka seseorang bisa menghadapi gangguan kecemasan atau ketegangan yang terus-menerus. Bila gangguan kecemasan diidap oleh seseorang, penanganan dengan pengobatan atau farmakologis dan non-farmakologik atau terapi psikis mungkin diperlukan," pungkasnya.

(ren)