Share

BKKBN: Tingkatkan Kualitas Generasi, Tekan Angka Kelahiran

Marieska Harya Virdhani, Jurnalis · Selasa 22 April 2014 15:52 WIB
$detail['images_title']
Siti Fathonah (Foto: Marieska/Okezone)

BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus mengevaluasi masalah pengendalian kependudukan, salah satunya di Jawa Barat. Angka kelahiran dan migrasi dianggap menjadi penyebab terus bertambahnya laju pertumbuhan penduduk di Jawa Barat.

Kepala BKKBN Wilayah Provinsi Jawa Barat Siti Fathonah mengatakan, tujuan sosialisasi diutamakan pada kaum muda yang produktif dan bekerja seiring terus tumbuhnya sebesar 55 persen industri manufaktur di Jabar. Hal itu tak akan pernah berhenti ditambah lagi dengan munculnya industri-industri baru.

"Yang sebelumnya bukan kawasan industri, kini malah jadi berkembang, ada Purwakarta, Subang, tak akan pernah berhenti. Majalengka akan ada bandara internasional nantinya bahkan akan jadi kota metropolis itu dari sisi migrasi, belum lagi kelahiran," jelasnya kepada wartawan usai acara Rapat Koordinasi dengan Pemerintah Kota Depok di Balaikota Depok, Selasa (22/04/2014).

Siti menambahkan, di Jawa Barat terdapat 900 ribu kelahiran per tahun. Angka tersebut terus bertambah dari 2010, yakni 750 ribu. Siti menegaskan bahwa BKKBN berupaya menekan angka kelahiran jangan sampai melebihi angka itu lagi.

"BKKBN bersama Pemda kendalikan ini. Kami tata agar tahun depan kalau bisa menurun ke 800 ribu, tahun depannya lagi berkurang lagi, karena angka pertumbuhan penduduk harus diimbangi dengan tingkat ekonomi yang baik, jangan dari kampung datang ke kota bawa dua sampai tiga orang lalu di kota hidupnya merasa baik secara ekonomi akhirnya punya anak lagi," jelasnya.

Hal itu, kata dia, akan semakin membebani pemerintah daerah. Di Jabar terdapat program sekolah gratis hingga tingkat SMA mulai tahun ini, jika angka kelahiran bertambah maka akan menambah beban pemerintah. Belum lagi dari sisi pelayanan kesehatan.

"Ini yang harus disadarkan kepada masyarakat kalau kita ingin meningkatkan kualitas generasi penerus kita, kita harus me-manage atau mengatur dan mengendalikan, sebab uang yang seharusnya bisa mengupgrade atau meningkatkan kualitas pendidikan, malah terpakai untuk menanggung bayi yang baru lahir lagi," tutupnya.

(tty)