Getting time...
OKEHEALTH | DETAIL FAMILY HEALTH

Kelainan Janin, Bisakah Dihindari?

(koran Sindo) - Koran SI
Selasa, 16 April 2013 11:03 wib
detail berita
Cek kondisi kandungan (Foto: Ist)
KELAINAN pada janin dalam kandungan umumnya diatasi dengan aborsi, dikeluarkan dengan segera atau dilahirkan secara caesar. Belakangan, terdapat opsi lain yang diharapkan dapat lebih efektif mengatasi cacat bawaan tersebut.
 
Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya lahir dengan fisik yang sempurna. Namun, beberapa faktor ternyata dapat membuat seorang bayi terlahir dengan kelainan bawaan atau kongenital.
Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), cacat bawaan merupakan penyebab kematian tersering ketiga setelah prematuritas dan gizi buruk.

Di negara maju, 30% dari seluruh penderita yang dirawat di rumah sakit anak terdiri atas penderita cacat bawaan dan akibat yang ditimbulkannya. Sementara, di Asia Tenggara, jumlah penderita kelainan bawaan cukup tinggi, yaitu mencapai 5%. Di Tanah Air sendiri, prevalensi cacat pada janin disebut-sebut mencapai angka 5 per 1.000 kelahiran.
 
Menurut dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari Rumah Sakit (RS) Premier Bintaro dr Nurwansyah SpOG, kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur.

Sampai saat ini, sekitar 80% cacat bawaan tidak diketahui penyebabnya secara pasti. ”Penyebabnya multifaktor, baik genetik, infeksi, maupun lingkungan. Bahkan, virus seperti toksoplasma, yang sering disebut jadi penyebab, justru sangat jarang menyebabkan cacat bawaan, hanya di bawah 1%,” ujarnya dalam Seminar Dokter bertajuk Updates In Maternal-Fetal Medicine di RS Premier Bintaro.
 
Nurwansyah mengemukakan, cacat bawaan biasanya terjadi pada kehamilan berisiko tinggi, misalnya ibu dengan usia lanjut, yaitu lebih dari 35 tahun atau memiliki riwayat keluarga dengan kelainan bawaan. Untuk mengetahui adanya kelainan bawaan pada janin, lanjut dia, diperlukan pemeriksaan yang dinamakan prenatal diagnosis. Ini merupakan segala aktivitas prenatal yang dimaksudkan untuk mendiagnosis adanya kelainan pada janin, baik cacat malformasi, kelainan genetik, maupun kelainan metabolisme.
 
Salah satu jenis prenatal diagnosis adalah pemeriksaan melalui ultrasonografi(USG). USG bertujuan untuk melihat sejauh mana perkembangan janin dan mengetahui apakah terdapat cacat bawaan.
Banyak calon ibu saat ini, kata Nurwansyah, yang menolak melakukan USG karena takut akan efek gelombang suara frekuensi tinggi yang dipancarkannya. Padahal, hal itu sama sekali tidak benar.
 
”Alat USG yang ada sekarang sangat kecil sekali pancaran gelombang suaranya, jadi aman dan tidak membahayakan kandungan. Bahkan, lebih berbahaya bergosip lewat ponsel,” imbuhnya.
 
Memang secara umum dianjurkan pemeriksaan USG sebanyak tiga kali. Pada trimester pertama (kehamilan 10–14 minggu), trimester kedua (kehamilan 18–22 minggu), dan trimester ketiga (kehamilan 28–32 minggu).
 
Namun, kata Nurwansyah, sebaiknya pemeriksaan USG dilakukan setiap kontrol ke dokter sehingga kemungkinan kelainan bawaan yang diidap bayi akan segera diketahui.

”Tetapi memang ketahuan terjadinya cacat bawaan juga dipengaruhi oleh keahlian yang memeriksanya. Maka dari itu, pilih tenaga kesehatan seperti bidan atau dokter yang ahli di bidangnya,” sebutnya.
 
Para calon ibu juga dapat curiga anaknya mengalami cacat bawaan jika cairan ketubannya berlebih atau malah kekurangan. Dia mengungkapkan, jika diketahui adanya kelainan bawaan, ada beberapa tindakan untuk mengatasinya. Di antaranya diaborsi atau digugurkan kandungannya, jika dilihat janin tidak mungkin lagi bisa hidup dengan baik dan dipastikan akan membebani keuangan keluarga karena penyakitnya. Misalnya pada kasus janin dengan organ jantung yang berada di luar tubuh atau perkembangan kaki yang tidak sempurna.
 
Ada juga yang langsung dilakukan bedah caesar, seperti pada kejadian anak yang kembar siam. Metode lain untuk mengatasi kelainan bawaan adalah dengan melahirkan janin dengan segera, meskipun belum waktunya. Terdapat juga terapi lain yang bisa mengobati kelainan bawaan, yaitu melalui intervensi intra-uterin.
 
Kelainan pada janin yang dapat coba diatasi dengan metode ini adalah anemia janin. Anemia janin dapat terjadi jika ada perbedaan rhesus darah antara calon ibu dan janin. Perbedaan rhesus tersebut akan menyebabkan janin tidak mendapatkan nutrisi dari darah ibu karena tubuh ibu membentuk antibodi terhadap darah janin. Jika dibiarkan, janin hanya akan maksimal bertahan hidup di dalam perut hingga tujuh bulan dan setelah itu meninggal.
 
Cara pengobatannya, yaitu dengan memberikan imunisasi kepada sang ibu agar tidak menghasilkan antibodi dalam bentuk antirhesus. Bisa juga untuk mengatasi kelainan hydrothorax, yaitu adanya cairan di rongga thorax. Cairan dapat dikeluarkan dengan penusukan langsung di bagian tersebut.
”Tata laksana terapi apa yang didapat janin memang amat bergantung pada kelainan apa yang dia miliki,” tutur Nurwansyah.
(tty)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Facebook Comment List

 

Lifestyle

Tunjuk Anne Avantie, Langkah Nagita Slavina Sudah Tepat

Nama Anne Avantie disebut-sebut desainer yang bakal membuatkan kebaya pengantin untuk Nagita Slavina. Namun, kabar tersebut pernah dibantah langsung oleh Anne Avantie. Desainer asal Semarang ini menegaskan hanya merancang busana keluarga Raffi dan Nagita.

Food

Rahasia Masak dengan Bawang Putih ala Korea
Banyak masakan Korea menggunakan bawang putih. Untuk memermudah pengupasan bawang putih, biasanya warga Korea merendamnya terlebih dahulu di air panas.

Property

MNC Bangun Lapangan Golf Bertaraf Internasional
PT MNC Land Tbk (KPIG) akan mengembangkan sebuah kawasan golf bertaraf internasional. Lapangan golf ini rencananya akan dibangun di kawasan resor Lido, Jawa Barat.