PASANGAN yang ingin melangsung pernikahan disarankan untuk melakukan cek darah atau skrining. Ini penting dilakukan untuk mendeteksi riwayat talasemia yang bisa menurun kepada anak yang dilahirkan nantinya.
Dari tahun ke tahun penderita peyakit telasemia terus meningkat. Para calon orangtua bisa mencegah bertambahnya penyandang kelainan darah akibat kurangnya produksi sel darah merah (hemoglobin) itu dengan deteksi dini risiko melahirkan anak telasemia.
“Semua pasangan sehat yang akan menikah itu harus memeriksa darahnya, apakah dia itu sebagai pembawa sifat (gen) talasemia atau bukan,” kata dr. Heru Noviat Herdata, SpA, ahli penyakit anak yang sering menangani talasemia di RSU Zainal Abidin Banda Aceh disela donor darah massa di Gedung DPRA, Banda Aceh, Rabu (11/7/2012).
Talasemia akan terjadi bila 25 persen sel darah seseorang normal menikah dengan orang yang 50 persen sel darahnya terinfeksi talasemia. Jika hasil pemeriksaannya menunjukkan demikian, maka pasangan itu bisa memilih apakah tetap melanjutkan pernikahan atau membatalkan.
Kalau melanjutkan, tentu risikonya ialah anak yang akan dilahirkan nanti akan terinfeksi talasemia, sehingga perlu dipersiapkan pengobatan maksimal. Penderita talasemia jenis mayor membutuhkan transfusi sel darah merah secara rutin, jika tidak berpotensi pada kematian.
Menurut Heru, janin yang dalam kandungan juga bisa diketahui terinfeksi talasemia atau tidak dengan pemeriksaan darah ibunya saat usia kehamilan mencapai 12 hari. Ibu hamil disarankan untuk memeriksa darahnya saat itu, mengingat akan mudah diambil tindakan jika terdeteksi bahwa janin terinfeksi talasemia.
Hingga sekarang, belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit talasemia.
Seorang bayi bisa diketahui memiliki talasemia saat usia di bawah satu tahun. Ciri-ciri bayi terkena talasemia antara lain pucat, perut membesar, dan limpahnya membengkak.
Heru yang juga Ketua Perhimpunan Orangtua Penderita Talasemia Indonesia (Popti) Cabang Aceh menyebutkan, angka penderita talasemia di provinsi itu tergolong tinggi. Saat ini, orangtua anak penderita talasemia yang tergabung dalam Popti Aceh mencapai 150 orang.
“Itu yang tergabung dalam Popti saja, kita yakin di luar ini masih banyak lagi,” sebut Heru.
Staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala itu menambahkan, sekarang ini dia rutin menangani 120 penderita talasemia di Aceh.
(ind) (tty)