Getting time...
OKEHEALTH | DETAIL SEXUAL HEALTH

Ini Dampak Sering Nonton Blue Film bagi Kesehatan

Gustia Martha Putri - Okezone
Jum'at, 29 Juni 2012 20:42 wib
detail berita
Nonton televisi bersama (Foto: Corbis)
BLUE film tidak selamanya buruk karena bermanfaat bagi pasangan suami-istri yang mengalami masalah seksual. Namun, terlalu sering "menikmati" blue film pun dapat mencederai kesehatan.
 
Berikut beberapa dampak buruk terlalu sering menonton blue film bagi kesehatan yang Okezone dapatkan dari berbagai sumber.
 
Kebutaan
 
Hasil riset terbaru menunjukkan bahwa menonton film porno bisa melumpuhkan bagian otak pemroses stimulasi visual. Pasalnya dalam kondisi biasa, menonton film atau melakukan pekerjaan visual lain akan memompa lebih banyak darah ke korteks visual utama. Seorang uroneurolog, Gert Holstege mengatakan, otak lebih fokus pada dorongan seksual dibanding proses visual selama film.
 
“Anda harus menyadari otak ingin menyisakan sebanyak mungkin energi. Jadi, jika beberapa bagian otak tak butuh fungsi yang lebih tinggi, bagian ini akan dimatikan,” katanya, seperti dikutip Indiansutras.
 
Perilaku seks tak sehat
 
Efek pornografi pada otak juga disebut "beracun" sebagaimana halnya kokain. Seorang psikolog menyatakan bahwa kontak yang terlalu lama terhadap pornografi merangsang preferensi untuk penggambaran seks berkelompok, praktik sadomasokis, dan kontak seksual dengan hewan.
 
Aditif
 
Pornografi juga memicu candu. Banyak orang mendiagnosa diri mereka sebagai pecandu porno setelah membaca buku-buku populer tentang pornografi. (ina)
(tty)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Facebook Comment List

 
BACA JUGA »

Lifestyle

Tora Sudiro Tidak Cuci Celana Jins Tiga Bulan
Untuk mendapatkan celana jins yang baik, kita harus tidak mencucinya dalam jangka waktu tertentu. Hal ini pun turut dilakukan Tora Sudiro yang tidak menyuci celana jinsnya selama tiga bulan

Property

Salah Satu "Dosa" Menpera Selama Kepemimpinannya
Ali menilai, karena tidak adanya akses ini segala kordinasi menjadi tidak terakomodir dengan baik. Akibatnya, posisi Menpera hanya sebagai regulator saja, bukan sebagai eksekutor.