ANAK sering kali membantah ucapan Anda. Namun, Anda juga menimpalinya dengan jawaban yang sedikit “mengancam” dan otoriter. Tapi nyatanya, efek bagi si kecil bisa diingatnya hingga besar nanti.
Sebenarnya saat membantah, anak mengembangkan keterampilan berbahasa. Karena membantah memerlukan perbendaharaan kata, kemampuan menyusun kalimat, dan berpikir. Sebaiknya, bijaklah menjawab bantahan si kecil.
Berikut ini penjelasan lengkap Meriyati Budiman Mpsi dari Clinical Psychologist Rumah Sakit Royal Taruma.
Membantah = Perkembangan Daya Pikir
Usia
toddler anak sudah bisa berkata dan mengerti apa yang ia katakan. Ia juga mengerti instruksi sederhana seperti “
Dek, tolong ambilkan mainan itu?” dan perintah lainnya. Selain itu juga ia sudah bisa mengekspresikan perasaan senang, sedih dan lain sebagainya. Anak juga sudah dapat diajak bernegosiasi seperti ketika
Moms mengajaknya bermain mobil dibandingkan bermain air.
Sikap membantah pada anak usia
toddler sebenarnya wajar-wajar saja. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan orangtuanya. Sifatnya ini sebenarnya menunjukkan perkembangan daya berpikirnya. Jadi selama
Moms bisa memberikan alasan yang jelas atas setiap larangan atau perintah ia juga akan mengerti.
Adapun penyebab si kecil membantah antara lain:
- Anak melihat contoh dari lingkungan sekitarnya. Misalnya, ia melihat Kakaknya sering membantah orangtua.
- Anak diminta untuk melakukan hal-hal di luar kemampuannya, misalnya si kecil disuruh mengambil mainannya sendiri yang disimpan di dalam lemari, sementara ia tidak mampu melakukannya. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab anak membantah perintah orangtua.
- Si kecil memiliki keinginan yang berbeda dengan orangtua, misalnya orangtua menyuruhnya mandi padahal anak masih ingin bermain.
Kenali Diri Anda!
Sebelum
Moms membalas bantahan si kecil, sebaiknya kenali diri Anda sendiri. Bila
Moms termasuk orang yang mudah stres dan mudah marah, sebaiknya tahan diri dan tahan emosi dengan menarik napas serta tunggu sampai amarah menghilang baru hadapi si kecil. Jangan sampai kata-kata bersifat “pelarangan” terlanjur keluar tanpa terkendali. Hal akan membuatnya marah dan
Moms memberi contoh tidak baik yang akan ditiru.
Jika ia selalu dilarang, ditentang dan hanya mengenal kata “pokoknya” “jangan”, “jadi”, “enggak boleh” dan pelarangan lainnya, maka emosinya tidak berkembang dan inisiatifnya menjadi terhambat. Pun kata yang bersifat melarang akan membuat si kecil tidak kreatif dan terus merasa takut. Jangan heran bila nantinya dia akan menjadi “miniatur Moms” yang selalu senang berkata melarang kepada pengasuh dan orang sekitarnya. Atau si kecil akan terlihat “galak” karena
Moms sering berkata aneka jenis pelarangan padanya.
Selain menjadi duplikat
Moms dalam mengeluarkan kata larangan, kelak bila dia dewasa hanya membutuhkan perintah dan tidak memiliki inisiatif sendiri. Jadi, bila si kecil “doyan” membantah, jangan dulu bersikap negatif,
Moms.
Melarang Boleh, Asal...
Kalaupun
Moms ingin melarang si kecil, hendaknya disertai dengan alasan. Berikan pula alternatifnya. Pasalnya, si
toddler bukanlah orang dewasa yang mengetahui alasan dia dilarang dan dapat mencari alternatif lainnya. Si kecil adalah seorang anak yang masih memerlukan alasan
Moms saat dia dilarang. Misal, “
Dek, lebih seru main bola, daripada bermain api. Nanti bisa sebabkan kebakaran, loh,!” Artinya,
Moms bisa memberikan alternatif ketika satu kegiatan tidak bisa dia lakukan, maka ada kegiatan lain yang bisa dia lakukan.
Jangan lupa berikan perintah secara jelas dan detil. Hindari juga berkata, “Pokoknya Mama sudah bilang kalau makan permen jangan berantakan. Kalau berantakan kan rumah jadi kotor. Pokoknya rumah harus selalu bersih. Adik jangan kotor!”
Padahal inti dari larangan tersebut adalah “bila makan permen bungkusnya buang ke tempat sampah, ya
Dek”. Dijamin, si kecil tidak akan bingung atas perintah yang
Moms sampaikan.
Kalimat larangan hanya akan membuatnya tahu bahwa dirinya salah. Namun, dia tidak tahu, harus bagaimana.
Rumus APA (Akui, Pahami dan Arahkan)
Untuk memahami si kecil,
Moms bisa menerapkan rumus APA. Akui
bahwa si kecil memang belum mengerti banyak hal. Akui bahwa memang ia masih kecil dan tidak bisa diharapkan ia bisa sama bertingkah laku seperti anak yang sudah besar. Pahami fase perkembangan serta kemampuan berbahasanya memang masih sedikit dan terbatas. Di satu sisi ia juga mempunyai keinginan kuat untuk melakukan sesuatu sendiri. Belum terbentuknya kontrol kemauan di otak membuat si
toddler bertingkah laku demikian. Arahkan adalah jalan terbaik terakhir setelah mengakui dan memahaminya. Mengarahkannya ke satu alternatif akan membuatnya mempunyai pilihan-pilihan karena pelarangan yang ditujukan untuknya.
Kuncinya Disiplin dan Konsisten
Penerapan disiplin secara konsisten harus dimulai sejak dini. Karena, dengan ketegasan yang konsisten si kecil menjadi terbiasa dan tahu apa yang dilakukannya mempunyai konsekuensi. Hindari penerapan secara yoyo
, kadang dilakukan dan kadang tidak. Jika demikian maka si kecil pun akan kebingungan atau mengalami
ambiguity. Contoh, saat akan membeli mainan buat kesepakatan dengan anak sejak dari rumah bahwa akan membeli mobil-mobilan sesampainya di toko mainan nanti.
Nah, bila si kecil merengek, minta dibelikan robot-robotan juga,
Moms jangan langsung mengabulkannya. Jelaskan kepada si kecil kesepakatan yang telah dibuat. Bila si kecil tetap merenggek, berikan alasan yang jelas. Misal, uangnya tidak cukup untuk membeli mobil-mobilan dan robot sekaligus. Katakan pada si kecil, kumpulkan uang terlebih dulu baru nanti ke toko mainan lagi untuk membeli robot-robotan. Bila dijelaskan secara tepat, si kecil akan memahaminya, kok
Moms. (Sumber: Mom & Kiddie)
(tty)